JOGJA, bisnisjogja.id – Kemampuan sektor moneter dalam mendukung perekonomian nasional sebenarnya rendah. Moneter tidak bisa bergerak bebas karena banyak bergantung pada kebijakan inflasi luar negeri.
Dosen Ekonomi UGM, Akhmad Akbar Susamto PhD mengungkapkan hal itu menanggapi pemerintahan baru Prabowo-Gibran.
Ia mengatakan kebijakan fiskal maupun moneter, pemerintah nantinya mengalami kesulitan karena ruang gerak ekonomi yang sempit. Pertumbuhan ke depan mungkin cenderung stabil, tapi tidak bisa secara progresif meningkat.
Ketahanan Ekonomi
”Strategi untuk menghadapi tantangan tersebut tentu tidak mudah. Pemerintahan yang baru sebaiknya fokus memperbaiki ketahanan ekonomi dulu,” usul Akhmad.
Namun demikian, ia melihat sepertinya pemerintahan baru justru akan sibuk menghadapi tantangan dari dalam. Pasalnya, Kementerian Keuangan menyatakan terjadi defisit anggaran APBN per Juli 2024 sebesar Rp 93,4 triliun.
Meskipun angka tersebut masih sesuai dengan rancangan APBN, tapi perlu diperhatikan hal ini berdampak pada ruang fiskal pemerintah. Ia memperkirakan hingga akhir tahun, kemampuan pemerintah dalam mendongkrak ekonomi nasional cenderung rendah.

