MEDIA massa beberapa minggu ini menginformasikan pembangunan jalan tol semakin mendekati Kota Yogyakarta. Jalan tol dari Bawen menuju Yogyakarta diperkirakan akan rampung. Demikian pula jalan tol dari Kartasura menuju Yogyakarta, yang dilanjutkan pembangunan jalan tol dari Kota Yogyakarta menuju Bandara YIA Kulonprogo.
Pernahkah mengalami perjalanan saat musim liburan dari Jakarta ke Yogyakarta selama 35 jam? Pernah merasakan macet parah saat mudik Lebaran? Atau mungkin terjebak kemacetan setiap hari saat berangkat kerja?
Jika iya, semua pasti mendambakan jalan yang mulus dan lancar tanpa hambatan. Jalan tol, dengan janjinya memangkas waktu tempuh dan memperlancar perjalanan, seakan menjadi jawaban atas semua keluhan kita. Di balik kemudahan yang ditawarkan, jalan tol menyimpan sejumlah persoalan yang patut kita cermati.
Jalan tol, seringkali digadang-gadang sebagai tulang punggung pembangunan infrastruktur modern. Jalan tol dipandang sebagai pembuka aksesibilitas, pendorong pertumbuhan ekonomi, dan magnet bagi investor.
Di sisi lain, jalan tol menyimpan sejumlah pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan: Apakah jalan tol benar-benar menjadi kunci emas bagi pertumbuhan investasi? Ataukah ia lebih serupa dengan kota pandora yang melepaskan berbagai permasalahan kompleks?
Perspektif Lingkungan
Tidak dapat dipungkiri, kehadiran jalan tol memang membawa sejumlah dampak positif. Ia memangkas waktu tempuh, mengurangi biaya logistik, dan membuka peluang pengembangan kawasan baru. Perusahaan-perusahaan besar dengan mudah menjangkau pasar yang lebih luas, sementara investor properti melihat peluang emas untuk mengembangkan proyek-proyek besar di sepanjang jalur tol.
Sisi lain pembangunan jalan tol seringkali diiringi dengan masalah sosial yang kompleks. Pembebasan lahan, misalnya, tak jarang menimbulkan konflik antara masyarakat dan pemerintah. Pergeseran pola hidup akibat pembangunan jalan tol juga dapat memicu perubahan sosial yang tak terduga.
Selain itu, dari perspektif lingkungan, pembangunan jalan tol juga menimbulkan sejumlah tantangan. Deforestasi, pencemaran air, dan peningkatan emisi gas rumah kaca adalah beberapa dampak negatif yang tak bisa diabaikan.
Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana kita bersedia mengorbankan lingkungan demi mengejar pertumbuhan ekonomi?
Lebih jauh lagi, perlu juga dipertanyakan efektivitas jalan tol dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Studi menunjukkan bahwa manfaat pembangunan jalan tol seringkali dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu, terutama mereka yang memiliki modal dan akses ke informasi. Masyarakat miskin dan kelompok marginal justru seringkali terpinggirkan dan tidak merasakan manfaat pembangunan tersebut.
Adil dan Berkelanjutan
Jalan tol bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni pembangunan yang berkelanjutan. Kita perlu menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan kata lain, kita perlu membangun jalan tol yang tidak hanya efisien, tetapi juga adil dan berkelanjutan.
Dari sisi lain tampaknya juga harus dicermati akibat adanya jalan terhadap inventasi yang akan muncul misalnya investasi properti bisa meningkat. Hal ini akan tampak dari kenaikan nilai tanah dan pertumbuhan kawasan baru. Dari sisi investasi industri tampak pada aksesibilitas yang lebih baik dan ketersediaan lahan untuk bisnis yang lebih variatif.
Dalam banyak kejadian, daerah sekitar jalan tol seringkali membuka lahan industri yang luas dan siap bangun. Dari sisi infrastruktur umum dan transportasi tentu akan muncul seperti rekreasi dan rest area atau bahkan usaha oleh-oleh.
Tidak kalan serunya adalah berkembangnya investasi pariwisata di sepanjang jalan tol karena akses ke destinasi akan lebih mudah.
Jadi, dalam era pembangunan yang semakin kompleks, adanya jalan tol menjadi sebuah keuntungan bukan masalah. perlu dipikirkan lebih kritis dan holistik. Jalan tol hanyalah salah satu bagian dari puzzle yang lebih besar.
Membangun masa depan yang lebih baik perlu integrasi dengan berbagai aspek pembangunan, mulai dari infrastruktur fisik hingga pembangunan manusia.
– Penulis, D Agus Budi Raharjono, Dosen Departemen Akuntansi FBE UAJY

