UAD dan Caturharjo Kolaborasikan Teknologi Pengelolaan Sampah

oleh -11 Dilihat
SAMPAH: Tim UAD saat melihat dari dekat pengolahan sampah di Kalurahan Caturharjo, Bantul.(Foto: dok UAD)

BANTUL, bisnisjogja.id – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bersama Kalurahan Caturharjo dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul memulai kolaborasi penelitian bertajuk ”Implementasi Teknologi Pengelolaan Sampah Terpadu di Rumah Kumpul Sampah Dilengkapi Aplikasi Deteksi Emisi Gas Berbahaya dan Low-Cost Vision Method Berbasis Internet of Things untuk Mendorong Kesadaran dan Kemandirian Pengelolaan Sampah Melalui Laboratorium Hidup dan Ko-Kreasi di Kalurahan Caturharjo”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek, sebuah inisiatif Direktorat Minat Saintek, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang berfokus pada pengembangan Living Lab berbasis sains dan teknologi untuk pemberdayaan masyarakat.

Kunjungan lapangan perdana berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026, sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan program penelitian dan pendampingan masyarakat secara intensif. Tim penelitian dipimpin oleh Prof Anton Yudhana bersama anggota tim multidisiplin yang terdiri atas Prof Maryudi dari Program Studi Kimia UAD.

Ada pula Dr Wiwiek Afifah dan Ulaya Ahdiani MHum dari Program Studi Sastra Inggris UAD, Asno Azzawagama Firdaus MEng dari Universitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu yang saat ini sedang menempuh studi doktor di Universiti Muhammadiyah Malaysia serta Prof Anom Wahyu Asmorojati dari Program Studi Hukum UAD.

Sampah Persoalan Bersama

Lurah Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Wasdiyanto SSi menegaskan persoalan sampah masih menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama. Namun demikian, pengelolaan sampah yang dilakukan secara tepat diyakini dapat memberikan manfaat ekonomi maupun sosial bagi masyarakat.

Caturharjo sebenarnya sudah menjalankan Program 4000 Jogangan dan Rumah Kumpul Sampah (RKS) untuk sampah nonorganik dengan dua kategorikan yaitu sampah yang laku jual dan tidak laku jual (residu). Program tersebut akan semakin ditingkatkan dengan cara menjalin kolaborasi dengan UAD.

Di wilayah Caturharjo, terdapat 14 Rumah Kumpul Sampah (RKS) yang tersebar di 14 kelurahan. Pengelolaan sampah di wilayah ini menerapkan metode olah limbah dengan pendekatan alam ke alam dan pabrik ke pabrik melalui proses daur ulang.

Sampah organik yang dapat dijadikan kompos dibuang ke dalam jogangan, sementara sampah yang memiliki nilai jual dipisahkan ke dalam berbagai kategori seperti botol plastik, karton, dan kertas, kemudian dijual untuk mendukung keberlanjutan program.

Namun demikian, penanganan sampah residu masih menjadi tantangan utama yang belum sepenuhnya terselesaikan. Saat ini, sampah residu hanya dapat dikirimkan ke TPS3R sebagai solusi sementara.

Program Sedekah Sampah

Di sisi lain, program unggulan yang tengah berjalan, yaitu Sedekah Sampah, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Program ini berhasil memberikan santunan kepada warga masyarakat serta para guru di lingkungan setempat.

Lebih jauh lagi, hasil dari program tersebut bahkan telah digunakan untuk membantu memperbaiki rumah warga yang membutuhkan bantuan, membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang baik dapat memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.

”Permasalahan sampah akan selalu ada, tetapi jika dikelola dengan baik dapat menjadi sumber manfaat dan kemandirian masyarakat,” ungkap Ngadiono selaku pimpinan Padukuhan Gluntung Kidul.

KUNJUNGAN: Tim UAD dan dinas terkait saat kunjungan melihat pengelolaan sampah di Caturharjo, Bantul.(Foto: dok UAD)

Dia menjelaskan Rumah Kumpul Sampah di Gluntung Kidul, sudah berjalan selama 4 tahun. Beberapa manfaat yang telah diberikan adalah santunan kepada lansia, bingkisan kepada para guru TK, dan beberapa pendanaan untuk aksi sosial.

Kalurahan Caturharjo sudah menunjukkan perkembangan signifikan dalam pembangunan berbasis masyarakat dan lingkungan. Dari sebelumnya berada pada peringkat bawah dalam evaluasi tingkat kalurahan di Kabupaten Bantul, kini berhasil meningkat menjadi salah satu kalurahan dengan perkembangan terbaik.

Membangun Pola Pikir

Anton Yudhana selaku ketua tim penelitian dan pimpinan LPPM UAD menyampaikan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

”Pendampingan universitas tidak hanya berhenti pada transfer teknologi, tetapi juga membangun perubahan pola pikir masyarakat agar mampu menciptakan kemandirian dalam pengelolaan lingkungan. Dalam penelitian ini akan dikembangkan fasilitas insinerator agar sampah residu dapat ditangani secara mandiri, sehingga permasalahan tersebut dapat ditangani secara lebih tuntas dan efisien tanpa bergantung pada pihak luar,” papar Anton.

Pengembangan teknologi pengelolaan sampah berbasis Internet of Things (IoT), termasuk sistem deteksi emisi gas berbahaya pada area pengolahan sampah serta penerapan low-cost vision method untuk mendukung pemantauan visual yang lebih efektif, efisien, dan terjangkau tersebut akan menjadi penyempurna program pengelolaan sampah yang sudah dilakukan di Caturharjo.

Selain itu, program tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, namun juga mengedepankan pendekatan living laboratory dan co-creation yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam proses inovasi. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat akan dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan, pengambilan keputusan, pengembangan solusi, hingga penguatan kesadaran dan kemandirian lingkungan secara berkelanjutan.

Berlangsung Satu Tahun

Kegiatan kunjungan awal yang dilaksanakan di Emperan Inspirasi Toga Tobato atau Rumah Dilan (Rumah Pendidikan dan Pelatihan) merupakan bagian dari rangkaian program pendampingan dan penelitian yang akan berlangsung selama satu tahun penuh.

Program tersebut juga diintegrasikan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi yang melibatkan 34 mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Ahmad Dahlan. Melalui kolaborasi multidisipliner ini, mahasiswa diharapkan dapat terlibat langsung dalam proses pemberdayaan masyarakat, penguatan kesadaran lingkungan, serta implementasi teknologi pengelolaan sampah berbasis Internet of Things (IoT) di Kalurahan Caturharjo.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perangkat kalurahan, pengelola Rumah Kumpul Sampah Bapak Arifin Hasan, kader dan relawan pengelolaan sampah padukuhan, pengurus Bank Sampah Tuku Rempah (Gluntung Kidul Resik Sampah), para ketua RT, komunitas Oemah Inovasi, serta berbagai elemen masyarakat yang selama ini aktif mendukung penguatan pengelolaan lingkungan di Kalurahan Caturharjo.

Selain menjadi forum kolaborasi dan penguatan program lingkungan, kegiatan ini juga menghadirkan para lansia untuk menerima santunan sembako sebagai bentuk nyata pemanfaatan hasil pengelolaan Rumah Kumpul Sampah yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.

Melalui program tersebut, diharapkan Kalurahan Caturharjo dapat menjadi model pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.