GUNUNGKIDUL, bisnisjogja.id – Kalurahan Semoyo, Gunungkidul, memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata edukasi herbal berkelanjutan. Komoditas lokal ini berpeluang menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Melihat potensi tersebut, dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Muhammad Eko Atmojo menggelar program pengabdian masyarakat. Program ini fokus pada pelembagaan dan sinergi desa wisata.
Eko menjelaskan bahwa Semoyo sudah memiliki modal kuat berupa sentra jahe dan kunyit. Potensi alam ini sangat menjual untuk dikembangkan menjadi paket wisata edukasi.
Namun, pengembangan wisata di desa ini sempat mengalami stagnasi. Masalah utamanya terletak pada kelembagaan pengelola pariwisata yang sebelumnya tidak berjalan aktif.
Kondisi tersebut mendorong tim pengabdian UMY untuk melakukan penyegaran organisasi. Langkah utamanya adalah membentuk ulang struktur pengurus desa wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Beri Pendampingan Intensif
Dalam program ini, Eko bersama pemerintah kalurahan memberikan pendampingan intensif. Penguatan organisasi menjadi fondasi penting agar pengelolaan wisata memiliki arah yang jelas.
Menurut Eko, potensi alam harus didukung oleh lembaga yang mampu menggerakkan masyarakat. Oleh karena itu, pendampingan difokuskan pada pemahaman tata kelola bisnis pariwisata.
Tim pengabdian juga menyosialisasikan peraturan gubernur terbaru mengenai kelembagaan desa wisata. Hal ini penting agar legalitas organisasi pengelola di tingkat desa menjadi kuat.
Kegiatan yang diikuti 20 calon pengurus ini mendapat respons antusias. Peserta langsung bergerak menyusun pengurus Pokdarwis baru dan memetakan potensi herbal yang akan dijual.
Melalui program ini, Pokdarwis Semoyo diharapkan segera aktif menjadi motor penggerak ekonomi. Sinergi lembaga yang kuat diyakini mampu mewujudkan desa wisata yang mandiri dan berkelanjutan.





