JOGJA, bisnisjogja.id – Dua orang mengendarai sepeda motor menyiramkan air keras ke arah Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Korban menderita luka bakar hingga 24 persen di sekujur tubuhnya.
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya menjelaskan dalam keterangan tertulisnya, Andrie Yunus mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK).
”Korban mengalami luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” ungkap Dimas.
Ia menjelaskan kronologi kejadiannya. Usai melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk ”Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” yang rampung pada sekitar pukul 23.00 WIB, Andrie Yunus keluar untuk pulang.
Ketika melintas di Jalan Salemba I, Talang, Jakarta Pusat, ia berpapasan dengan pengendara sepeda motor kemungkinan Honda Beat yang melawan arah. Keduanya mendekati Andrie dan langsung menyiramkan air keras kemudian kabur.
Kasus Novel Baswedan
Kasus yang sama pernah menimpa penyidik KPK Novel Baswedan yang juga disiram air keras. Kasusnya terungkap beberapa tahun setelah kejadian. Banyak pihak menganggap ada yang janggal dalam pengakuan pelaku.
Novel dikenal tegas dalam menjalankan tugasnya. Ia tak kenal kompromi. Hal itu tentu berisiko pada dirinya karena pasti banyak yang tak menyukai sepak terjangnya terutama mafia korupsi.
Mungkinkah kasus-kasus tersebut merupakan upaya teror pada suara kritis? Berkaca dari berbagai kasus, bisa jadi demikian. Ingat kasus almarhum Munir yang diracun ketika dalam perjalanan ke Belanda, hingga kini kasusnya tidak terungkap secara tuntas.
Ada pula kasus wartawan Bernas, Udin, yang kini sekarang juga tidak pernah terungkap meskipun kejadian telah puluhan tahun silam. Teror pada influencer juga tidak terungkap. Begitu pula pembunuhan ASN Semarang Paulus Iwan Budi Prasetyo yang merupakan saksi kasus korupsi.
Khusus pada kasus Paulus Iwan, Panglima TNI Andika Perkasa waktu itu sudah memberi sinyal kuat pengungkapan dan meyakini polisi memiliki bukti kuat. Namun demikian, hingga kini tak pernah terungkap. Gubernur Jawa Tengah Achmad Lutfi yang saat kasus itu terjadi merupakan Kapolda Jawa Tengah juga pernah menjanjikan mengungkap tuntas.
Teror, intimidasi dan pembunuhan suara kritis merupakan sinyal demokrasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Praktik semacam itu pernah terjadi di era Orde Baru dan transisi ke era Reformasi yang sampai sekarang tak pernah terungkap.





