- Literasi masyarakat tentang penggunaan obat bebas masih sangat minim.
- Penggunaan obat bebas yang tidak rasional dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan serius.
- Apoteker memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan penggunaan obat yang aman di masyarakat.
FENOMENA maraknya pembelian obat tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan semakin meningkat. Kemudahan masyarakat dalam mengakses obat bebas melalui marketplace, minimarket, maupun toko obat mengakibatkan tingginya praktik swamedikasi.
Masyarakat dapat membeli berbagai jenis obat secara cepat dan mudah tanpa harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Selain itu, literasi masyarakat tentang penggunaan obat bebas masih sangat minim. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa obat bebas aman digunakan.
Faktanya, setiap obat memiliki potensi efek samping, interaksi, hingga risiko overdosis jika digunakan tanpa mempertimbangkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat pasien.
Kemudahan dan Kepraktisan
Banyaknya informasi kesehatan dan obat di media sosial menjadi faktor utama meningkatnya pembelian obat tanpa resep. Penggunaan antibiotik tanpa resep, obat nyeri jangka panjang, obat herbal yang dicampur dengan bahan kimia obat (BKO), bahkan pembelian obat ilegal secara online masih sering ditemukan di masyarakat.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan bahkan sampai pada kerusakan organ yang mengancam nyawa. Fenomena tersebut diperkuat dengan hasil temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang melaporkan terdapat ribuan akun, tautan penjualan obat ilegal di marketplace, termasuk suplemen, obat bahan alam yang mengandung BKO dan tanpa izin edar. Temuan ini menunjukkan masih rendahnya literasi dan pengawasan penggunaan obat di masyarakat.
Masalah lainnya yaitu banyak produk obat, suplemen, obat herbal yang dijual online dan illegal tanpa izin edar BPOM sehingga tidak terjamin keamanan dan kualitasnya.
Beberapa produk herbal ilegal bahkan ditemukan mengandung bahan kimia seperti sildenafil, steroid, dan obat antiinflamasi yang dapat menimbulkan efek samping apabila digunakan tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Kondisi ini semakin berisiko karena ternyata masih banyak masyarakat yang kesulitan membedakan produk legal dan ilegal.
Dampak Kesehatan Serius
Penggunaan obat bebas yang tidak rasional dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan serius, seperti kerusakan hati dan ginjal, perdarahan lambung, serta alergi berat. Beberapa contoh yaitu penggunaan obat flu bersamaan dengan obat tidur dapat menyebabkan sedasi berlebihan, dan konsumsi paracetamol dosis tinggi dapat meningkatkan risiko hepatotoksisitas.
Penggunaan obat yang tidak tepat juga dapat menutupi gejala penyakit serius sehingga diagnosis menjadi terlambat. Begitu pula ancaman kesehatan global saat ini yaitu penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan atau tanpa resep dokter dapat mempercepat kejadian resistensi antibiotik.
Praktik swamedikasi di masyarakat juga dipengaruhi oleh kemudahan dalam memperoleh obat, maraknya iklan atau testimoni dari influencer kesehatan yang belum valid secara ilmiah. Selain itu, masih terdapat anggapan bahwa obat yang cocok digunakan oleh seseorang, maka aman juga digunakan kembali atau dibagikan kepada orang lain.
Sebagian besar masyarakat juga kurang memahami dosis, indikasi, efek samping, dan risiko interaksi obat akibat minimnya literasi dan pendampingan dari profesi kesehatan yang kompeten.
Peran Apoteker
Apoteker memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan penggunaan obat yang aman di masyarakat. Apoteker tidak hanya berperan sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai edukator yang menjelaskan informasi dosis obat yang tepat, efek samping, serta potensi interaksi obat yang perlu diwaspadai.
Masyarakat juga dianjurkan untuk selalu memeriksa izin edar melalui aplikasi atau situs Cek BPOM, menghindari pembelian obat dari toko online yang tidak jelas, serta tidak mudah percaya pada testimoni tanpa dasar ilmiah. Masyarakat juga perlu berkonsultasi dengan apoteker atau dokter sebelum menggunakan obat.
Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap penjualan obat di marketplace, meningkatkan literasi obat sejak usia sekolah, dan menindak tegas peredaran obat ilegal. Tenaga kesehatan juga diharapkan lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial maupun kegiatan komunitas agar informasi yang benar dapat menjangkau segenap lapisan masyarakat.
Pengawasan terhadap distribusi dan penjualan obat oleh otoritas kesehatan juga harus diperketat guna mencegah peredaran produk yang tidak memenuhi ketentuan dan membahayakan kesehatan masyarakat.
Dengan demikian, kita semua menyadari bahwa kemudahan akses dalam memperoleh obat bebas tidak boleh menjadikan kita terlupa bahwa setiap obat bebas pasti memiliki risiko dan ancaman berbahaya.
- Penulis, Apt Lolita MSc PhD, Kaprodi S1 Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.





