- Fenomena bunuh diri, tidak lepas dari banyak faktor yang melatarbelakangi. Ada faktor sosial, psikologis, dan juga ekonomi.
- Secara umum kasus bunuh diri karena adanya tekanan hidup luar biasa sehingga tidak bisa lagi dikelola secara baik oleh seseorang.
JOGJA, bisnisjogja.id – Sejumlah kasus bunuh diri membuat semua pihak prihatin. Perlu upaya serius untuk mencegah dan mengatasinya.
Berdasarkan informasi di berbagai media massa, dari beberapa kasus bunuh diri terjadi akibat tekanan ekonomi yang sering dihadapi perempuan atau ibu rumah tangga.
Perempuan atau ibu rumah tangga sering kali mendapat beban tanggung jawab ganda dalam rumah tangga. Mereka harus mengatur keuangan keluarga, mengurus anak, dan menjaga martabat keluarga.
Mereka juga sering menghadapi teror penagih utang dan stigma sosial sehingga memikul beban terberat ketika ekonomi rumah tangga runtuh.
”Fenomena bunuh diri, tidak lepas dari banyak faktor yang melatarbelakangi. Ada faktor sosial, psikologis, dan juga ekonomi,” ungkap Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Nurul Kusuma Hidayati, MPsi Psikolog.
Namun demikian, secara umum kasus bunuh diri karena adanya tekanan hidup luar biasa sehingga tidak bisa lagi dikelola secara baik oleh seseorang.
”Tekanan hidup yang luar biasa bisa menimpa siapapun, yang sifatnya kronis atau akut,” jelas Nurul.
Peran Ganda
Ia menjelaskan peran ganda sebagai ibu rumah tangga, istri dan juga tidak jarang sebagai tulang punggung utama keluarga, dapat menjadi salah satu pemicu utama.
Beban yang berlipat sebagai penanggung peran ganda berpotensi menyebabkan individu berada di titik yang sangat rendah.
Ketika tekanan ini ditambah dengan stigma sosial, tuntutan standar norma masyarakat, dan juga teror-teror dari sisi ekonomi, kesehatan mental mereka rentan terganggu. Ini semakin berpotensi memunculkan tindakan-tindakan ekstrem.
”Fenomena bunuh diri dari sisi kesehatan mental misalnya stres negatif yang sangat dan kecemasan berlebih membuat individu merasa gelisah sepanjang waktu hingga overthinking terhadap semua. Hal itu memperburuk kondisi mental,” ujar Nurul.
Tata kelola emosi dan pikiran yang tidak matang menyebabkan tekanan menjadi semakin berat dan terasa tidak bisa dikendalikan lagi. Pikiran putus asa dan tiada harapan membuat individu merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Tidak ada yang bisa membantunya mencari solusi.
Sosial Budaya
Selain beberapa faktor di atas, sosial budaya di dunia digital juga merupakan hal yang harus dicermati dengan seksama.
”Copycat suicide misalnya, atau tindak bunuh diri karena terpapar berita atau informasi tentang bunuh diri orang lain adalah hal yang sangat potensial terjadi karena pertukaran informasi dan budaya di dunia digital yang semakin tidak terkendali,” paparnya.
Ia berpendapat, upaya pencegahan bunuh diri membutuhkan pendekatan yang komprehensif, bukan hanya fokus pada salah satu aspek. Ia menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental, agar kepekaan terhadap kondisi kesehatan mental diri dan orang lain meningkat.
Dengan demikian, kemampuan deteksi dini pada masalah kesehatan mental juga ikut terasah dengan baik. Di sisi lain penyediaan akses layanan psikologis yang terjangkau dan penguatan ketahanan diri agar para perempuan menjadi semakin berdaya merupakan hal yang esensial.
”Ubah segala bentuk narasi menjadi bernuansa empati dan dukungan. Media dan figur publik memiliki peran penting dalam mengubah narasi negatif mengenai perempuan dan segala bebannya,” tandas Nurul.





