Teknologi Saekedelai Bidik Target Produktivitas Hingga 4 Ton Per Hektar

oleh -6 Dilihat
PELUNCURAN: Suasana peluncuran gerakan penanaman kedelai secara serempak di Sleman.(Foto: istimewa)

SLEMAN, bisnisjogja.id – Kebutuhan komoditas kedelai nasional terus melonjak seiring meningkatnya permintaan pangan berbasis protein terjangkau seperti tahu dan tempe. Sayangnya, produksi lokal yang minim membuat pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih sangat bergantung pada impor.

Merespons tantangan tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta menginisiasi gerakan lintas sektor guna mewujudkan kedaulatan pangan nasional dari Yogyakarta untuk Indonesia.

Provinsi DIY tercatat memiliki kurang lebih 10.103 unit usaha tahu, tempe, dan industri pengolahan kedelai yang menjadi sektor padat karya penyerap banyak tenaga kerja. Penguatan di sektor hulu menjadi kunci utama agar rantai pasok industri pangan lokal ini tidak goyah oleh fluktuasi pasar global.

Sebagai wujud nyata, gerakan penanaman kedelai secara serempak resmi diluncurkan di Dusun Gamparan, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman pada Minggu (24/05/2026). Momentum ini dihadiri langsung Wakil Ketua Umum Koordinator 3 Kadin DIY Hermawan Ardiyanto, Bupati Sleman Harda Kiswaya, serta berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) strategis dari kalangan akademisi, birokrasi, dan pelaku industri.

Inovasi Digital Terbaru

Gerakan tersebut mengandalkan inovasi digital mutakhir bernama teknologi Saekedelai (Smart Agro Enterprise Kedelai) yang dikembangkan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sistem ini mengintegrasikan teknologi pemantauan iklim, sistem barcode untuk penelusuran indikasi geografis hasil panen, hingga pemanfaatan Sistem Resi Gudang (warehouse system). Integrasi ini dirancang untuk memberikan jaminan kepastian pasar serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Melalui implementasi teknologi Saekedelai, program membidik target lompatan produktivitas yang signifikan, yakni di angka 2,5 hingga 4 ton per hektar. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata produksi kedelai nasional di wilayah DIY yang saat ini masih tertahan di kisaran 1,6 sampai 1,8 ton per hektar.

Pada tahap awal, total luas area lahan penanaman yang disiapkan mencapai 110 hektar, tersebar di Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul.

Pusat Unggulan Kedelai

Wakil Ketua Umum Koordinator 3 Kadin DIY, Hermawan Ardiyanto, menegaskan komitmennya untuk mendorong DIY sebagai Pusat Unggulan Kedelai Nasional. Berbekal status keistimewaannya, DIY dinilai sangat siap mendukung ekosistem pangan sehat, industri hilirisasi tempe premium, pusat edukasi pangan lokal, hingga kawasan pertanian organik.

Lokasi peluncuran di Prambanan dipilih karena memiliki kawasan pertanian organik asri yang terintegrasi dengan potensi agrowisata.

Dukungan penuh juga datang dari sektor akademisi. Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Prof Wiratni, menyatakan program sinergi yang didukung teknologi Kemendikbudsaintek menjadi jembatan krusial bagi hilirisasi riset universitas.

Menurutnya, hasil penelitian di laboratorium harus mampu keluar dan memberikan dampak ekonomi secara langsung guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Masa Depan Pertanian

Optimisme serupa diungkapkan oleh Pelaksana Program Saekedelai, Dr Atris Suyantohadi, yang menyebut platform ini sebagai arsitektur masa depan pertanian kedelai Indonesia yang tersistem dan berkesinambungan.

Kerja sama korporasi petani dan asosiasi lokal ditargetkan terus meluas dengan melibatkan lebih dari 2.500 petani mitra, serta ekspansi perluasan lahan pertanian kedelai hingga di atas 300 hektar guna menjamin kontinuitas suplai industri nasional.

Keberhasilan program didukung oleh ekosistem kemitraan yang solid, mulai dari hulu hingga hilir. Kolaborasi melibatkan Direktorat PUI UGM, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, CV Java Agro Prima sebagai offtaker industri dan produsen benih unggul, HKTI DIY, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, serta Kelompok Tani Organik Tani Makmur.

Rangkaian peluncuran gerakan penanaman kedelai serempak ditutup dengan doa bersama dan prosesi adat wiwitan sedekah bumi. Tradisi kearifan local digelar di lahan pertanian Dusun Gamparan sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan agar transformasi teknologi pertanian ini mampu membawa berkah, kemandirian pangan, dan kemakmuran bagi para petani lokal.

No More Posts Available.

No more pages to load.