JOGJA, bisnisjogja.id – Manajemen Jogja Expo Center (JEC) di bawah kepemimpinan Direktur Utama PT Surya Abhinaya Sentosa, Endro Wardoyo, terus memperluas kerja sama strategis guna mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas gedung.
Langkah ini diambil untuk memastikan gedung konvensi terbesar di Yogyakarta tersebut tidak hanya menjadi pusat MICE, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif lokal.
Sebagai pusat konvensi dan pameran terbesar di Yogyakarta yang diresmikan oleh Pemda DIY pada tahun 2004, Grha Pradipta JEC dirancang untuk mengakomodasi berbagai kegiatan berskala besar.
Kompleks modern ini telah lama dikenal publik sebagai lokasi utama penyelenggaraan pameran bisnis, pertemuan, pergelaran seni, resepsi pernikahan, hingga ajang olahraga.
Kerja Sama Mitra
Komitmen optimasi tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara manajemen JEC dan Badan Pimpinan Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handycraft Indonesia (BPP ASEPHI). Kerja sama strategis berlangsung di Gedung JEC, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, dan dihadiri oleh perwakilan BPP ASEPHI, Dr H Muchsin Ridjan.
Kerja sama fokus pada kemitraan penyediaan tempat untuk penyelenggaraan ajang “Road to INACRAFT Festival” di JEC untuk periode 2027-2029. Pemilihan JEC sebagai lokasi kegiatan ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu barometer penting industri kerajinan tangan nasional.
Menjelaskan agenda tersebut, Endro Wardoyo memaparkan bahwa Road to INACRAFT Festival merupakan rangkaian pra-acara menuju pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia, International Handicraft Trade Fair (INACRAFT).
Perkuat Ekosistem Kriya
”Untuk diketahui, Road to INACRAFT Festival adalah rangkaian acara pendahuluan atau pra-acara menuju pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia, yaitu International Handicraft Trade Fair (INACRAFT),” jelas Endro Wardoyo.
Endro menambahkan, kegiatan ini berfungsi sebagai wadah kolaborasi untuk memperkuat ekosistem kriya nasional, mempromosikan UMKM, serta mempertemukan perajin dengan pembeli dan investor. Rangkaian acara pendukung meliputi pameran wastra, workshop, bincang-bincang kreatif, hingga pertunjukan seni budaya lokal.
Di sisi lain, pembina perajin handycraft DIY yang juga Komisaris Utama PT Surya Abhinaya Sentosa, Robby Kusumaharta, menyoroti potensi besar industri ini yang memiliki makna ganda bagi perekonomian modern.
”Istilah ‘potensi kerajinan tangan DIY’ memiliki dua makna yang sama-sama menjanjikan, yaitu potensi ekonomi dari aktivitas DIY atau buatan sendiri serta potensi industri kreatif di Provinsi DIY yang menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia,” jelas Robby Kusumaharta.
Peluang Bisnis Rumahan
Robby juga menekankan bahwa aktivitas kerajinan tangan kini telah bertransformasi menjadi peluang bisnis rumahan yang sangat menguntungkan. Konsumen modern dinilai sangat menghargai produk unik dengan personalisasi tinggi, mulai dari aksesoris custom hingga dekorasi rumah yang menawarkan nilai estetika eksklusif.
Menutup rangkaian kolaborasi ini, Endro Wardoyo menegaskan bahwa kemitraan dengan ASEPHI merupakan wujud nyata dukungan manajemen terhadap pengembangan sektor handycraft di Yogyakarta.
”MoU yang dilakukan bersama ASEPHI merupakan bentuk atau wujud dukungan kami terhadap pengembangan handycraft di DIY,” tegas Endro Wardoyo.
Ke depannya, manajemen JEC berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh serta fasilitas prioritas bagi asosiasi dan komunitas handycraft yang ingin menyelenggarakan pameran berskala regional maupun nasional di kompleks Grha Pradipta JEC.





