SLEMAN, bisnisjogja.id – Rangkaian perayaan ulang tahun ke-64 atau Tumbuk Ageng Gereja Katolik St Petrus dan Paulus Babadan, Sleman, dimeriahkan dengan pameran 177 lukisan rohani. Pameran yang berlangsung sepekan penuh pada 2–9 Agustus 2026 di Aula Gereja Katolik Babadan ini tidak hanya merayakan usia gereja, tetapi juga mengusung misi ekonomi umat melalui penggalangan dana.
Dana yang terkumpul dari kegiatan ini diproyeksikan untuk kebutuhan strategis perluasan aset, yakni pembelian lahan parkir baru seluas lebih dari 1.000 meter persegi yang terletak di bagian belakang kompleks gereja. Hal itu sebagai wujud kemandirian finansial dan investasi jangka panjang fasilitas penunjang kegiatan paroki.
Pastor Kepala Paroki St Petrus dan Paulus Babadan, Rama Antonius Saptana Hadi Pr, menjelaskan bahwa ajang ini memadukan potensi ekspresi iman, bakat seni, dan kepedulian sosial untuk saling berbagi.
“Pameran seni lukis ini menjadi momen istimewa bagi Gereja Katolik Babadan karena memberi ruang ekspresi iman, bakat seni dan kepedulian untuk berbagi berjalan bersama,” ujar Sapto saat pembukaan, Minggu (2/8/2026).
Karya Lintas Kalangan
Pameran perdana di wilayah Keuskupan Agung Semarang ini menampilkan karya lintas kalangan, mulai dari umat, seniman awam dari Solo, Ambarawa, dan Yogyakarta, hingga para imam. Beberapa rohaniawan yang turut memamerkan karya seni mereka antara lain Antonius Padua Danang Bramasti SJ, Ignatius Andita Triayanto MSF, Heribertus Budi Purwantoro, dan Yustinus Slamet Witokaryono Pr.
Dari sisi manajemen artistik dan visual, panitia melibatkan para profesional berpengalaman untuk memastikan kualitas pameran bernilai tinggi. Antonius Subianto dari Bonum Art Klaten dan pengelola senior Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu, dipercaya sebagai konsultan seni sekaligus penata artistik penataan ruang pameran.
Kurator pameran, Petrus Agus Herjoko, memaparkan bahwa karya yang dipamerkan menonjolkan kekuatan spiritualitas pelukis tanpa sekat denominasi yang kaku.
“Maka ketika menerjemahkan lukisan rohani, kita memperlihatkan jiwa kita, roh kita,” tutur Herjoko, menegaskan prinsip dasar karya seni yang bersumber dari penghayatan iman mendalam.
RamaJoko Lelono Pr menambahkan, pameran juga menjadi ruang strategis perjumpaan antara industri kreatif seni rupa dan spiritualitas masyarakat modern. Melalui goresan kuas dan permainan warna, pengunjung diajak merenungkan makna kehidupan di tengah kesibukan sehari-hari.
Proses Seleksi Ketat
Aspek kuratorial mendapat perhatian serius agar setiap karya yang ditampilkan mampu membangun narasi visual yang kuat bagi para kolektor dan penikmat seni. Proses seleksi ketat dilakukan oleh Herjoko selaku kurator guna menjamin standar estetika dan nilai spiritual lukisan yang dipamerkan.
Selain mendatangkan nilai tambah spiritual, penyelenggaraan iven skala regional ini mendongkrak roda aktivitas ekonomi mikro di kawasan Jalan Raya Tajem, Wedomartani. Keterlibatan seniman lintas daerah seperti MM. Nanik Sri Gunarni dan Arwan Akik dari Solo, serta pasangan Ratih-Susyanto, memperluas jejaring pasar seni rupa lokal.
Melalui sinergi antara pariwisata rohani, seni, dan aksi filantropi penggalangan dana lahan parkir, manajemen Gereja Babadan optimistis kegiatan ini mendatangkan multiplier effect positif bagi perekonomian paroki dan komunitas seni setempat hingga penutupan acara pada Minggu (9/8/2026).





