JOGJA, bisnisjogja.id – Raminten bukan nama asing di Yogyakarta. Ia menjadi ikon pengusaha sekaligus seniman yang bernama asli Hamzah Sulaeman. Meskipun berkecimpung di dunia bisnis tapi ia tidak melupakan seni budaya yang sudah mendarah daging dalam dirinya.
Wisatawan yang berkunjung ke Kota Budaya pasti bakal mengucap nama Raminten. Ia menjadi penanda di gerai suvenir khas Hamzah Batik dan warung dengan masakan serba ada, Raminten. Sosok yang digambarkan mengenakan kebaya, sanggul dan kacamata bulat tersebut begitu melegenda.
”Saya pertama kali mengenal Kanjeng (panggilan lain Hamzah-Red) ketika mengunjungi warungnya. Muncul dalam benak, ini unik dan menarik,” tutur sutradara Nia Dinata, Senin (19/8/2024).
Mulailah ia mencari informasi, melakukan riset, wawancara dengan banyak orang tentang sosok Raminten. Akhirnya, sampai pada kesimpulan, Raminten layak menjadi film. Sosok tersebut bukan sekadar pengusaha, seniman, tetapi juga inspirator bagi banyak orang.
Melalui Kalyana Shira Films & Foundation, Nia langsung gerak cepat menghubungi sejumlah kolega untuk ikut menggarap film dokumenter tentang Raminten. Ternyata banyak pihak yang bersedia menjadi pendana karena ketertarikan dengan Hamzah ”Raminten” Sulaeman.
Proyek Nonprofit
”Kami rencanakan film ini bakal selesai pada akhir Desember. Tidak begitu banyak kendala karena lokasinya di Jogja. Soal dana, ada beberapa teman yang berkontribusi,” ungkap Nia yang juga menyebut film tersebut merupakan karya nonprofit.
Ia tidak membayangkan filmnya bakal menyedot banyak penonton. Belajar dari film-film dokomenter lain misalnya Eksil yang juga tidak mendapat berlimpah penonton. Bukan persoalan bagi Nia, karena dokumenter Raminten dibuat memang untuk menginspirasi bukan mencari keuntungan semata.
Film bakal mengupas seluruh kehidupan Raminten, memotret perjalanan sang pendiri yang memiliki gelar KMT Tanoyo Hamijinindyo. Kisah hidupnya yang mengawali usaha dari bawah serta tetap konsisten melestarikan budaya menjadi catatan menarik.
”Kanjeng membina dan membesarkan Raminten tidak hanya sebagai sebuah bisnis, tetapi juga sebagai (chosen family, termasuk di dalamnya karyawan, penampil pertunjukan, serta keluarga dan para sahabat. Kanjeng membangun Raminten sebagai ruang aman untuk berekspresi khususnya lewat pertunjukan Raminten cabaret,” papar Nia.
Ia tak sendirian selama menggagas dan nanti pada eksekusi. Ada teman-temannya yang memberi dukungan penuh seperti nama Dena Rachman dan Melissa Karim. Mereka menjadi produser dalam proyek Raminten.
Keragaman Ekspresi
”Sosok Kanjeng sangat menginspirasi buat kami pribadi dan fakta bahwa Raminten dengan segala warna-warninya termasuk pertunjukkan cabaret yang sangat populer. Benar-benar kisah menarik,” kata Dena penuh semangat.
Kebetulan, kisah itu pas dengan tesis masternya yang mengambil tema tentang representasi gender dalam industri film Indonesia.
Melissa Karim pun merasakan atmosfer yang sama. Ia merasa mengerjakan dokumenter Raminten merupakan perjalanan yang sangat luar biasa. Melalui film ini, ia berharap dapat menangkap dan menampilkan esensi Raminten.
”Sosok Raminten tidak hanya sebagai ikon budaya dan bisnis tapi juga bentuk keragaman ekspresi Yogyakarta yang modern sebagai kota yang mempertemukan tradisi dengan inovasi,” tandas Melissa.
Nia menambahkan riset film berlangsung sejak April 2024 dan proses pengambilan gambar pada Juli 2024. Akhir tahun 2024, ia berharap penggarapan film sudah selesai.
Selain mendokumentasikan cerita Raminten, film ini juga ingin mempromosikan Yogyakarta sebagai kota yang tidak hanya kental budayatradisional, tetapi juga kaya seni modern kontemporer dengan mengangkat pesan moral.
”Nilai-nilai kebaikan memiliki dampak nyata terhadap hidup orang banyak tanpa memandang perbedaan seperti Raminten. Ia melakukan usaha tanpa membuat orang lain menderita, tanpa merusak lingkungan dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” tegas Nia.





