JAKARTA, bisnisjogja.id – Penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan dinilai memiliki signifikansi strategis dari sudut pandang diplomasi internasional dan dinamika internal Gereja. Hal tersebut ditegaskan oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, saat menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Keuskupan Agung Jakarta, Senin (04/05/2026).
Pertemuan tersebut menandai pelaporan hasil kunjungan PWKI ke Vatikan pada Maret 2026 lalu. Dalam kesempatan itu, PWKI turut menyerahkan buku ”75 Tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci” karya Dubes RI M Trias Kuncahyono, yang menjadi simbol penguatan relasi bilateral antara kedua negara di sektor komunikasi.
Suharyo menekankan, kehadiran bahasa Indonesia di kanal Vatican News merupakan langkah besar untuk menembus hambatan komunikasi global.
”Kehidupan Gereja Katolik Indonesia sangat maju dan dinamikanya hidup, namun kekurangannya adalah informasinya tidak tersebar luas ke forum luar negeri,” ujarnya.
Pintu Masuk Narasi Positif
Secara resmi, Nota Kesepahaman (MoU) penggunaan bahasa Indonesia telah ditandatangani pada 25 Maret 2026 antara Dikasteri Komunikasi Vatikan dan Komisi Komsos KWI. Kesepakatan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi narasi-narasi positif mengenai perkembangan sosial dan kemanusiaan dari Indonesia untuk dikonsumsi masyarakat dunia.
Dari sisi keunggulan komparatif, Suharyo menyebutkan praktik gereja di Indonesia seringkali jauh lebih maju dibandingkan di Eropa. Ia mencontohkan konsep berjalan Bersama yang baru akan dibahas di Roma, padahal sistem dewan paroki dan keterlibatan akar rumput sudah diaplikasikan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.
Meskipun strategis, ia memberikan catatan kritis terkait keberlanjutan aspek operasional dan finansial program tersebut. Ia mengingatkan kegagalan masa lalu pada edisi bahasa Indonesia di Radio Veritas Filipina.
”Tantangannya tidak mudah karena terkait biaya yang makin lama makin besar, sehingga perlu pengelolaan yang matang,” tegasnya.
Arus Informasi Lancar
Menanggapi tantangan tersebut, Ketua PWKI Asni Ovier menyatakan komitmen organisasi sebagai inisiator untuk mendukung penuh implementasi MoU. Perkumpulan memandang peran mereka tidak hanya berhenti pada inisiasi, tetapi juga pada tanggung jawab moral untuk memastikan arus informasi berjalan lancar melalui koordinasi dengan Komsos KWI.
Dalam konteks ekonomi informasi, keberadaan kanal resmi berpotensi meningkatkan branding Indonesia di mata global. Fokus konten yang akan diangkat mencakup isu-isu krusial seperti perdamaian, toleransi, hubungan antaragama, serta kemanusiaan yang menjadi nilai jual diplomasi Indonesia di panggung internasional.
Suharyo juga menyoroti sejarah panjang pemikiran progresif tokoh Gereja Indonesia, seperti Mgr Soegijapranata, yang pemikirannya sudah melampaui zaman sejak 1934 namun minim publikasi. Dengan adanya platform resmi di Vatikan, pemikiran-pemikiran besar dari Indonesia tidak lagi hanya tersimpan dalam arsip lokal.







