JOGJA, bisnisjogja.id – Keberadaan ayam kampung memiliki nilai ekonomi tinggi karena harganya lebih tinggi dibandingkan ayam komersial. Selain itu, rasa daging ayam kampung juga beda, gurih dan aromanya segar.
Banyak orang yang berusaha membudidayakan karena kebutuhan cukup tinggi. Di Yogyakarta, warung-warung ayam kampung pasti penuh apalagi saat akhir pekan atau liburan.
Melihat kondisi tersebut, Fakultas Peternakan UGM berusaha membuat ayam lokal jenis baru guna membantu perekonomian petani dan penjual ayam kampung.
”Kami sedang meneliti dan mencoba menyilangkan ayam kampung lokal dari Kalimantan dan Jawa Barat. Kedua ayam dari daerah itu memiliki sejumlah keunggulan,” tutur Ketua Tim Pembentukan Ayam Galur Baru dari Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Ternak UGM, Prof Dyah Maharani.
Cepat Tumbuh
Dyah dan tim ingin mencari ayam lokal yang dapat dipanen dalam waktu kurang dari 70 hari, berat 0,8 kg, tidak mengeram, dan tahan terhadap penyakit.
”Ayam lokal galur baru ini dapat dipanen lebih cepat, memberikan keuntungan bagi peternak dengan perputaran uang yang lebih pendek dan keuntungan lebih tinggi,” ujar Dyah.
Saat ini, tim sudah sampai tahap generasi kedua dalam proses penyilangan ayam. Perlu waktu sampai generasi keempat untuk melihat hasil yang maksimal.
Mereka memberi pakan khusus dari pabrikan dan formula sendiri. Proses penyilangan berlangsung secara alami di Semanu, Gunungkidul.





