JAKARTA, bisnisjogja.id – Departemen Komunikasi Bank Indonesia menggelar focused group discussion (FGD), dengan peserta aktif 30 akademisi terdiri atas dosen dan peneliti yang mewakili perguruan tinggi dan lembaga riset. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel DoubleTree, Jakarta (Senin-Selasa, 11-12/05/2026).
Dua topik yang utama yang dibahas adalah ”Dinamika Ekonomi dan Kebijakan Moneter Terkini” dan ”Pengelolaan Nilai Tukar Rupiah”.
Selaku narasumber dalam FGD, Harry Agenta (Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter/DKEM BI) dan Geyana Ledy Fista (Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas/DPMA BI). Bertindak selaku moderator Puji Widodo (DKom BI) dan Sukarno Andi (DKom BI).
Acara FGD tersebut dibuka Ramdan Denny Prakosa (Direktur Dkom BI). Hadir juga dalam acara yang digelar selama 2 hari antara lain Teuku Munandar (DKom BI) dan sejumlah panitia FGD dari DKom BI.
Pelemahan Rupiah
”Pelemahan nilai tukar rupiah dalam kurun waktu terakhir ini dipengaruhi oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah,” jelas Ramdan Danny Prakosa.
Seperti diketahui, konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global.
Selanjutnya dari sisi domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik.
Ia menegaskan BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF).
Di samping itu, BI juga telah dan akan mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah.
Berkaitan kondisi melemahnya nilai tukar rupiah yang terakhir maka BI juga telah melakukan intervensi dengan 7 jurus atau langkah untuk meredam pelemahan rupiah.
Ketidakpastian Geopolitik
Dari hasil FDG, kedua narasumber memberikan materi yang yang dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, ketidakpastian geopolitik seperti konflik di Timur Tengah (Timteng), memicu risk-off sentiment di pasar global, mendorong investor asing melakukan aksi jual di pasar keuangan domestik (modal keluar).
Konflik Timteng juga menyebabkan kenaikan harga komoditas minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan permintaan dolar AS untuk impor, yang menekan neraca perdagangan dan nilai tukar Rupiah.
Kedua, kekhawatiran akan inflasi dan ekonomi global membuat dolar AS menjadi aset safe haven utama. Hal ini menyebabkan indeks dolar menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, termasuk rupiah. Ketidakpastian global memicu investor asing menarik dananya dari pasar saham dan obligasi Indonesia, sehingga pasokan dolar AS di dalam negeri berkurang.
Ketiga, suku bunga AS yang tinggi meningkatkan imbal hasil (yield) US Treasury, menarik investor global untuk menanamkan modal di AS dan meninggalkan mata uang negara berkembang (seperti mata uang Rupiah).
Keempat, strategi stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas Rupiah. Strategi ini dilakukan dengan melalui, memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, melanjutkan peningkatan daya tarik aser domestik, dan penguatan strategi operasi moneter. Bank Indonesia juga melakukan 7 jurus untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah.
Di sesi terakhir dalam FGD tersebut juga dibahas peran Dkom BI. Sampai saat ini, Dkom BI punya peran penting dan strategis untuk mengomunikasikan kebijakan BI kepada mitra strategisnya, baik pemerintah, OJK, LPS, DPR, akademisi, dunia usaha, media massa dan masyarakat.
Kebijakan BI harus dapat disampaikan secara utuh, jelas dan mudah dipahami. Dekom BI sudah menggunakan semua kanal komunikasi untuk mengomunikasikan seluruh kebijakan BI kepada seluruh pemangku kepentingan.







