Gangguan Kesehatan Mental Rugikan Ekonomi USD 1 Triliun per Tahun

oleh -120 Dilihat
Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Nurul Kusuma Hidayati MPsi Psikolog.(Foto: dok UGM)

 

  • Gangguan kesehatan mental menurunkan kualitas hidup dan relasi sosial masyarakat.
  • Faktor yang mempengaruhi munculnya gangguan kesehatan mental beragam.
  • Depresi dan kecemasan berdampak pada produktivitas masyarakat yang menyebabkan turunnya kemampuan bekerja.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Jangan anggap enteng depresi. Gangguan kesehatan mental tersebut ternyata dapat membuat kerugian ekonomi yang sangat besar.

”Secara global, kecemasan dan depresi menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari USD 1 triliun per tahun serta menurunkan kualitas hidup dan relasi sosial masyarakat,” ungkap Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Nurul Kusuma Hidayati MPsi Psikolog.

Hal itu terjadi karena depresi dan kecemasan berdampak pada produktivitas masyarakat yang menyebabkan turunnya kemampuan bekerja melalui ketidakhadiran maupun kehadiran tanpa produktivitas.

Ia memaparkan, angka depresi dan cemas masyarakat Indonesia berdasarkan hasil skrining pada 13 juta penduduk per 15 Agustus 2025, ditemukan ada satu persen mengalami gejala depresi dan 0,9 persen mengalami gejala cemas.

Dibandingkan dengan survei nasional maupun estimasi global, prevalensi depresi biasanya sekitar 3–5 persen, angka ini terlihat relatif rendah.

Faktor Penyebab Depresi

Menurut Nurul, faktor yang mempengaruhi munculnya gejala depresi dan kecemasan beragam. Tidak hanya cukup dengan faktor tunggal. Bisa mencakup tekanan psikologis dan sosial-ekonomi, penyakit kronis, pekerjaan, serta keterbatasan akses layanan kesehatan psikologis.

Di samping itu, stigma dan rendahnya literasi kesehatan mental juga membuat banyak kasus tidak terdeteksi sehingga tidak tertangani. Keterampilan coping (mengatasi tekanan) yang secara umum kurang berkembang dengan maksimal juga memberikan kontribusi tersendiri.

”Kecemasan dan depresi dapat menimbulkan risiko berkepanjangan apabila tidak ditangani dengan baik,” imbuhnya.

Gejala yang muncul, lanjut Nurul, sebaiknya mampu segera dikenali agar tidak berkembang menjadi gangguan kronis yang berpotensi meningkatkan resiko coping yang maladaptif, penyalahgunaan zat hingga memburuknya kesehatan fisik bahkan berujung pada tindakan bunuh diri.

”Beban psikologis, ekonomi, dan sosial juga makin memperberat individu, keluarga, dan juga masyarakat,” tandasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.