JOGJA, bisnisjogja.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada 2026 kian mencekik ekonomi global. Indonesia kini dibayangi risiko “triple punch”, lonjakan harga energi, pelemahan rupiah, dan inflasi impor yang berpotensi mengerem laju pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan.
Pakar Ekonomi UGM, Yudistira Hendra Permana PhD, menilai ketidakpastian ini lebih berbahaya dibanding perang terbuka. Menurutnya, manuver saling tekan antarnegara menciptakan ruang abu-abu yang sulit diantisipasi oleh para pengambil kebijakan di dalam negeri.
“Situasi penuh ketidakpastian ini lebih sulit direspons karena arah perubahannya tidak jelas,” ujar Yudistira memperingatkan bahwa respons kebijakan yang tergesa-gesa justru berisiko memperlebar dampak guncangan eksternal tersebut.
Saat ini, inflasi di Indonesia bukan lagi dipicu oleh tingginya permintaan, melainkan meroketnya biaya produksi atau cost-push inflation. Kenaikan harga bahan baku dan energi langsung menghantam sektor pangan, memperberat beban masyarakat yang daya belinya belum pulih.
Kondisi tersebut memicu pesimisme di kalangan pelaku usaha. Survei industri menunjukkan tren kehati-hatian yang tinggi. Dunia usaha memilih menahan ekspansi dan investasi akibat tingginya tekanan biaya dan ketidakpastian domestik yang belum mereda.
Kritik Kebijakan Ekonomi
Yudistira mengkritik arah kebijakan ekonomi Indonesia yang dinilai masih terlalu “rabun dekat”. Pemerintah dianggap lebih fokus menjaga stabilitas tahun berjalan ketimbang membangun fondasi jangka panjang, sehingga kebijakan seringkali bersifat reaktif.
Lebih jauh, ia menyoroti intervensi politik yang kerap mewarnai keputusan ekonomi. Beberapa program besar dijalankan demi dampak elektoral, yang jika tidak dibarengi perencanaan matang, akan mempersempit ruang fiskal dan membebani APBN di masa depan.
Sektor keuangan pun mulai terdampak. Perbankan kini cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Jika likuiditas ke sektor riil tersumbat, impian target pertumbuhan ekonomi tinggi dipastikan akan sulit tercapai.
Untuk memutus siklus ini, Yudistira mendesak pemerintah fokus pada dua kunci utama: transformasi energi dan penguatan kualitas SDM. Tanpa langkah strategis yang konsisten, Indonesia akan terus terjebak dalam kebijakan jangka pendek yang berulang.
“Fondasi kita sebenarnya belum cukup kuat. Tanpa perbaikan struktural yang mendasar, respons kita terhadap krisis global akan selalu tidak optimal,” pungkasnya memberikan catatan keras bagi nakhoda ekonomi nasional.






