- Timur Tengah berfungsi sebagai arena demonstrasi kekuatan bahwa Amerika Serikat masih memiliki kapasitas untuk mempengaruhi stabilitas global.
- Bagi Indonesia, implikasi paling nyata dari konflik Timur Tengah, berada pada sektor energi dan stabilitas makroekonomi.
- Diversifikasi sumber impor energi menjadi penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara.
SECARA geopolitik, eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dapat dibaca sebagai bagian dari kepentingan ekonomi Presiden Donald Trump. Serangan dan tekanan terhadap Iran bukan semata persoalan keamanan kawasan Timur Tengah, melainkan juga menjadi pesan strategis kepada kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia, serta negara yang berada dalam BRICS.
Dalam perspektif ini, Timur Tengah berfungsi sebagai arena demonstrasi kekuatan bahwa Amerika Serikat masih memiliki kapasitas untuk mempengaruhi stabilitas global sekaligus mengendalikan jalur perdagangan strategis dunia. Selat Hormuz, yang dilalui seperlima perdagangan minyak dunia, menjadikan kawasan tersebut sebagai titik krusial dalam geopolitik energi global.
Tekanan terhadap Venezuela sebelumnya dan Iran saat ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari pola yang lebih luas dalam strategi geopolitik Amerika Serikat. Negara tersebut memiliki cadangan energi besar sekaligus posisi politik yang sering berseberangan dengan Trump.
Dengan menekan Venezuela dan Iran, Amerika Serikat tidak hanya mengirim pesan kepada penantang dalam sistem global, tetapi juga berusaha mempertahankan pengaruhnya terhadap rantai pasok energi dunia.
Dalam kerangka yang lebih luas, beberapa analis melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih agresif. Venezuela dan Iran dapat dianggap sebagai tahap awal dalam pola tekanan geopolitik yang akan meluas ke kawasan lain, seperti Meksiko dan Kuba yang ujungnya adalah Greenland.
Stabilitas Keuangan Global
Respons pasar keuangan global juga mencerminkan dinamika tersebut, dalam beberapa hari terakhir terlihat penurunan harga emas dan kenaikan harga Bitcoin sekitar 6 persen yang dibaca sebagai indikasi reposisi portofolio investor global di tengah ketidakpastian geopolitik.
Aset kripto menjadi alternatif likuiditas ketika sistem keuangan tradisional mengalami volatilitas tinggi, sementara emas sempat terkoreksi akibat penguatan dolar AS. Walaupun hubungan sebab-akibatnya tidak selalu bersifat langsung, pergerakan ini menunjukkan bahwa konflik Iran–Israel tidak lagi dipandang sebagai konflik regional, tetapi sebagai peristiwa yang memiliki implikasi terhadap stabilitas sistem keuangan global.
Bagi Indonesia, implikasi paling nyata dari konflik ini berada pada sektor energi dan stabilitas makroekonomi. Eskalasi konflik di kawasan Teluk berpotensi mendorong harga minyak dunia dan pada skenario konflik terbatas hingga proxy war, harga minyak berpotensi bergerak menuju kisaran USD 90–95 per barel sementara itu, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya ditetapkan sekitar USD 70 per barel.
Apabila harga minyak bergerak menuju kisaran USD 90–95 per barel, maka asumsi fiskal yang digunakan Pemerintah perlu disesuaikan dalam APBN Perubahan.
Kenaikan Harga BBM
Indonesia yang merupakan net oil importer akan mengalami kenaikan harga BBM domestik yang akan mengganggu biaya logistik, dan biaya produksi industri. Jika Pemerintah mempertahankan harga BBM melalui subsidi yang besar, maka tekanan akan berpindah ke sisi fiskal.
Sebaliknya, jika penyesuaian harga BBM dilakukan, maka inflasi domestik berpotensi meningkat karena efek rambatan pada transportasi, distribusi barang, dan harga pangan. Dengan demikian, konflik Iran–Israel berpotensi memicu imported inflation yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Tekanan fiskal juga berpotensi memperlebar defisit anggaran, dalam situasi seperti ini, disiplin fiskal menjadi sangat penting. Pemerintah perlu menahan ekspansi belanja yang tidak produktif dan memprioritaskan belanja yang memiliki efek pengganda tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi agar tekanan fiskal tidak semakin melebar.
Selain itu, konflik mengingatkan pentingnya memperkuat rainy day fund sebagai bantalan fiskal menghadapi shock eksternal. Ketidakpastian geopolitik global menunjukkan bahwa gangguan terhadap stabilitas ekonomi dapat muncul.
Diversifikasi Sumber Impor Energi
Dalam konteks ketahanan energi, Indonesia juga menghadapi tantangan struktural karena cadangan BBM nasional diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 20 hari. Angka ini jauh di bawah standar ketahanan energi negara maju yang umumnya berada di atas 60 hari.
Situasi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan global. Karena itu, diversifikasi sumber impor energi menjadi penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara dan tetap menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Konflik Iran–Israel juga tidak dapat diasumsikan sebagai konflik jangka pendek. Iran memiliki kapasitas militer yang kuat serta posisi geografis strategis di sekitar Selat Hormuz yang memberikan leverage terhadap pasokan energi global. Kondisi ini membuat konflik berpotensi berlangsung panjang, menyerupai dinamika perang Rusia–Ukraina yang berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
- Penulis, Jonathan Ersten Herawan, Analis PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.





