Griya Kain Tuan Kentang, Transformasi Strategi dari B2B Menuju B2C

oleh -46 Dilihat
JUMPUTAN: Proses pembuatan kain jumputan.(Foto: Y Sri Susilo)

PALEMBANG, bisnisjogja.id – Departemen Komunikasi Bank Indonesia (DKom BI) menggelar agenda “Temu Akademisi dan Peneliti” yang diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset seluruh Indonesia di Hotel Arista, Palembang.

Dalam rangkaian acara tersebut, para peserta berkesempatan mengunjungi Griya Kain Tuan Kentang (GKTK) pada Selasa (30/03/2026). GKTK merupakan salah satu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) unggulan mitra binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatera Selatan.

Usaha GKTK didirikan sebagai galeri sekaligus pusat edukasi bagi produk kain khas Palembang seperti kain jumputan, songket, blongket, hingga tajung. Menariknya, GKTK mengusung konsep ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah alam dalam proses produksinya.

“Kami memanfaatkan limbah getah gambir untuk pewarnaan guna mengurangi penggunaan pewarna sintetis yang berpotensi mencemari lingkungan air dan tanah,” ujar Sofyan Chandra, pemilik sekaligus pengelola GKTK.

Pusat Kerajinan Tradisional

Terletak di tepian Sungai Ogan, Kelurahan Tuan Kentang memiliki sejarah panjang sebagai pusat kerajinan tradisional. Sebagian besar warga di kampung ini menggantungkan hidupnya sebagai pengrajin kain tradisional kebanggaan Bumi Sriwijaya.

Berkat potensi besar tersebut, Pemerintah Kota Palembang bersinergi dengan Bank Indonesia menyulap wilayah ini menjadi destinasi wisata baru. Kehadiran galeri resmi kini memungkinkan wisatawan membeli produk berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif.

MOTIF: Pembuatan motif untuk kain jumputan.(Foto: Y Sri Susilo)

“Dengan dukungan BI dan Pemkot Palembang, usaha kami secara bertahap dapat berkembang,” ungkap Sofyan. Ia menambahkan bahwa fasilitasi galeri telah mengubah model bisnis mereka yang semula tertutup menjadi lebih terbuka.

Ia menceritakan, awalnya usaha Kampung Tuan Kentang bersifat business to business (B2B). Namun kini berkembang menjadi business to consumer (B2C), sehingga perajin bisa berkomunikasi langsung dengan pelanggan.

Dukungan Pemasaran Digital

Akademisi Unika Atma Jaya Jakarta, JB Suhartoko, menilai pendampingan BI sangat krusial bagi GKTK. Dukungan tidak hanya berupa fasilitas fisik, tetapi juga pelatihan pemasaran digital dan pelibatan dalam ajang bergengsi seperti Karya Kreatif Indonesia (KKI).

Senada, Guru Besar FEB Unesa Surabaya, Abdul Mongid, menekankan bahwa kunci keberhasilan UMKM terletak pada etos kerja pengelola. Iyan menurutnya tipikal pengusaha yang siap belajar dan bekerja keras mengoptimalkan potensi lokal.

Dari sisi kreativitas, Guru Besar FEB Undip Semarang, Nugroho SBM, mengingatkan pentingnya inovasi desain dan efisiensi bahan baku. Menurutnya, tantangan ke depan adalah menjaga kualitas produk agar tetap mampu bersaing di pasar global.

Sebagai penutup, Dosen dan Peneliti FBE UAJY, Y Sri Susilo, berharap program “UMKM Go Digital” dan “Go Export” BI terus disinergikan dengan pemerintah dan perguruan tinggi agar pengembangan ekonomi kerakyatan menjadi lebih optimal.

No More Posts Available.

No more pages to load.