- Liburan akhir pekan panjang mendorong masyarakat untuk berlibur atau melakukan perjalanan wisata.
- Wisatawan yang berlibur meningkatkan penerimaan daerah melalui berbagai pajak.
- Libur cuti bersama yang merupakan satu kesatuan dengan libur long weekend juga dapat menimbulkan penurunan produktivitas.
DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), long weekend telah diserap menjadi istilah ”akhir pekan panjang”. Frasa tersebut merujuk pada waktu libur yang berlangsung lebih lama dari hari Sabtu dan Minggu, yakni ketika tanggal merah (libur nasional) jatuh tepat di hari Jumat atau Senin.
Dalam praktik libur long weekend juga mencakup libur nasional yang jatuh hari Kamis atau Selasa. Dalam kasus ini, hari Jumat dan Senin masuk dalam kategori libur cuti bersama. Seperti contoh, libur nasional Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus (Kamis, 14/05/06), dijadikan momentum untuk libur long weekend, dengan hari Jumat (15/05/26) dijadikan libur cuti bersama.
Tujuan cuti bersama dalam long weekend adalah liburan akhir minggu yang panjang sehingga mendorong serta menungkinkan masyarakat untuk berlibur di luar kota. Dengan berlibur atau berwisata tersebut diharapkan dapat menimbulkan efek pengganda (multiplier effect) ekonomi. Roda ekonomi dapat lebih cepat berputar dari aktvitas pariwisata dan aktivitas turunannya.
Bagaimana dampak ekonomi dari aktivitas liburan long weekend? Jawaban pertanyaan tersebut menjadi fokus tulisan ini.
Efek Pengganda Ekonomi
Dari beberapa rujukan pengertian efek pengganda ekonomi adalah situasi di mana perubahan pengeluaran atau investasi memicu reaksi berantai yang menghasilkan peningkatan pendapatan nasional jauh lebih besar daripada nilai investasi awal tersebut..
Dalam konteks aktivitas liburan long weekend, efek penggnda ekonomi yang ditimbulkan berasal dari pengeluaran kegiatan transportrasi (pesawat, kereta api, bus, transportasi online dan transportasi pribadi), penginapan (hotel, homestay dan sejenisnya), konsumsi makanan-minuman (kuliner), pembelian oleh-oleh dan cindera mata dan aktivitas terkait lainya.
Dampak atau efek pengganda liburan long weekend dapat lebih dijelaskan contoh sebagai berikut. Pertama, wisatawan yang berlibur meningkatkan penerimaan daerah melalui pajak hotel, restoran, tiket masuk objek wisata, dan retribusi parkir. Hal tersebut tentu dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kedua, adanya perputaran uang dari sektor ritel dan kuliner. Dapat dipastikan terjadi lonjakan pembelian oleh wisatawan sehingga dapat mendorong pendapatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pedagang makanan, serta toko suvenir di tempat atau lokasi wisata.
Ketiga, meningkatnya pendapatan industri akomodasi dan yang terkait. Hal tersebut dapat diketahui dari tngkat okupansi hotel, penyewaan kendaraan, layanan pemandu wisata, dan transportasi umum mengalami kenaikan volume penjualan yang signifikan.
Keempat, sangat dimungkinkan terjadinya tambahan kebutuhan tenaga kerja di beberapa industri akomodasi dan kuliner serta di sektor informal dan pelayanan jasa. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi lonjak.
Roda Ekonomi Pariwisata
Efek pengganda ekonomi dari liburan long weekend dapat diringkas sebagai berikuit. Liburan akhir pekan panjang akan mendorong masyarakat untuk berlibur atau melakukan perjalanan wisata. Kondisi tersebut akan menjadikan roda ekonomi dalam aktivitas pariwisata, termasuk didalamnya aktivitas di sektor trasnportasi, penginapan dan makan-minum, UMKM (oleh-oleh dan cindera mata) dan aktivitas lain yang terkait.
Pengeluaran yang ditimbukan dari beberapa aktivitas yang terkait dengan pariwsata tersebut berujung dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Apakah libur long weekend dapat berdampak negatif?
Suatu aktivitas apapun tentu dapat berdampak positif maupun negatif. Selama dampak positif (benefit) masih lebih besar dari dampak negatifnya (cost) maka kegiatan tersebut dapat dijalankan terus.
Dalam kasus liburan long weekend tentu dampak negatifnya juga muncul. Beberapa kota tujuan wisata, termasuk Kota Yogyakarta dan sekitarnya, mengalami kemacetan lalu-lintas. Kepadatan lalu lintas terlihat di beberapa menuju tempat wisata mengalami kemacetan yang cukup parah. Sebagai contoh, kemacetan yang terjadi di sekitar Pasar Ngasem sejak pagi sampai tengah hari.
Libur cuti bersama yang merupakan satu kesatuan (bundling) dengan libur long weekend juga dapat menimbulkan penurunan produktivitas di beberapa sektor usaha. Berkaitan dengan hal tersebut, cuti bersama diterapkan di sektor usaha yang bukan terkait langsung dengan pelayanan publik, termasuk dunia pendidikan dan juga sektor manufaktur yang produktivitasnya tinggi.
Selanjutnya liburan long weekend dapat memicu demand pull inflation yaitu inflasi yang disebabkan adanya kenaikan permintaan barang dan jasa. Dalam kasus liburan long weekend ini dipastikan juga terjadi lonjakan permintaan, namun penulis duga tidak diikuti dengan kenaikan harga yang signifikan. Dengan demikian dampak liburan long weekend terhadap inflasi relatif kecil.
Catatan penutup, kebijakan cuti bersama dalam rangka libur long weekend dapat dilanjutkan. Evaluasi harus selalu dilakukan dengan analisis benefit-cost. Selama benefit atau manfaat yang diterima lebih besar dari cost atau biaya yang ditimbulkan maka kebijakan tersebut dapat dilanjutkan.
- Penulis, Dr Yuvensius Sri Susilo, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, Wakil Ketua Bidang Kominfodigi Kadin DIY dan Anggota Bidang Litbang GIPI DIY.





