JOGJA, bisnisjogja.id – Sebagai implementasi dari filosofi hamemayu hayuning bawono, yang bermakna memelihara, memperindah, dan melestarikan alam, Dies Natalis ke-43 Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta ditandai dengan penanaman empat pohon tanjung dan tiga pohon kepel di lingkungan Kampus Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (2/9/2025).
Hal itu menjadi gerakan civitas akademika dan tenaga kependidikan UWM untuk melakukan penghijauan dan menjaga kehidupan yang harmoni dengan alam.
”Bayangkan kalau rutin dilakukan oleh mahasiswa, dosen, dan tendik UWM di lokasi masing-masing, dan pasti ini sangat bermakna,” tandas Rektor UWM, Prof Edy Suandi Hamid yang sekaligus meluncurkan logo dies di Pendopo Agung. Acara ini dihadiri oleh para wakil rektor, dekan, dan pejabat di lingkungan UWM.
Mengusung tema ”Revitalisasi UWM Menuju Perguruan Tinggi Unggul dan Berkarakter”, pembukaan rangkaian dies diisi dengan kegiatan penanaman pohon di lingkungan kampus UWM.
Adapun sejumlah agenda lain, ziarah makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pahlawan nasional yang juga merupakan pendiri UWM, fun walk dosen dan karyawan, lomba menghias tumpeng, lomba olahraga, serta lomba debat mahasiswa.
Dalam bidang akademik, panitia merencanakan menggelar kegiatan sarasehan dan seminar nasional sedangkan bidang kebudayaan ditandai dengan resital sendratari bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan festival sendratari, kolaborasi dengan Disbud Provinsi DIY.
Sebagai puncak perayaan akan ditandai dengan laporan tahunan, orasi ilmiah, serta pemberian penghargaan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berpretasi.
Kualitas Akademik
Edy dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema dies kali ini menegaskan komitmen UWM dalam memperkuat kualitas akademik sekaligus membangun watak luhur civitas akademika.
”Kegiatan penanaman pohon di lingkungan kampus yang menjadi awal agenda dies kali ini melambangkan tekad kita untuk menanamkan nilai-nilai keberlanjutan, sekaligus mempercantik ruang belajar yang hijau dan asri,” tambah mantan Ketua Forum Rektor Indonesia tersebut.
Melalui momentum dies natalis, Rektor mengajak seluruh civitas akademika untuk mengambil peran aktif dalam setiap rangkaian kegiatan.
”Mari kita maknai dies natalis sebagai momentum kebangkitan UWM yang unggul dalam keilmuan dan berkarakter dalam budi pekerti,” pintanya.
Acara dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon kepel secara simbolis. Pohon kepel merupakan tanaman yang identik dengan Provinsi DIY. Pohon kepel menjadi flora identitas yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur DIY No 385/KPTS/1992 tentang Penetapan Identitas Flora dan Fauna DIY.
Nama pohon diambil dari bentuk buahnya yang dalam istilah Jawa disebut ”sekepel” atau hanya sebesar kepalan tangan. Pohon kepel juga cukup istimewa karena pohon itu menjadi salah satu vegetasi yang tumbuh di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta.
Selanjutnya penanaman bibit pohon tanjung oleh para dekan. Dalam etimologi Jawa, makna kata tanjung berarti menjunjung tinggi ajaran agama.
Bunga pada pohon tanjung, dapat dikumpulkan untuk mengharumkan pakaian, ruangan atau untuk hiasan. Kulit kayu pada pohon dapat direbus untuk digunakan sebagai obat demam.





