JOGJA, bisnisjogja.id – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengambil langkah konkret dalam mengatasi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui program pengabdian masyarakat. Tim dosen mengubah limbah minyak jelantah rumah tangga yang selama ini menjadi beban lingkungan menjadi produk sabun bernilai jual tinggi.
Ketua Tim Pengabdian UMY, Helen Dian Fridayani PhD memimpin langsung workshop pembuatan sabun tersebut di Desa Wisata Kaji (Dewi Kajii), Desa Gilangharjo, Bantul. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program bertajuk ”Agile Wastepreneurship: Dari Sampah Menjadi Berkah” yang fokus pada inovasi dan pemberdayaan ekonomi lokal.
”Program strategis ini mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular untuk memastikan sumber daya tetap berada dalam siklus produktif selama mungkin,” ungkap Helen, Rabu (4/3/2026).
Direktorat Riset dan Pengabdian UMY memberikan dukungan penuh dengan komitmen pendampingan intensif bagi masyarakat desa yang akan terus berjalan hingga akhir tahun 2026.
Dampak Buruk Jelantah
Helen menegaskan pembuangan minyak jelantah secara sembarangan memberikan dampak buruk bagi kualitas tanah dan air di pemukiman. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah yang semula tidak berharga bertransformasi menjadi produk ramah lingkungan yang mampu memberikan nilai tambah secara finansial bagi rumah tangga.
”Pengelolaan limbah harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi lokal yang adaptif,” sarannya.
Ia mendorong masyarakat melihat limbah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai aset ekonomi yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan di tingkat perdesaan.
Selama workshop berlangsung, para peserta mempelajari aspek teknis secara mendalam, mulai dari proses penyaringan minyak hingga pencampuran larutan alkali sesuai standar keamanan. Tim UMY juga membekali warga dengan materi manajerial seperti teknik pengemasan produk, penghitungan harga pokok produksi, hingga strategi pemasaran digital.
Pelaku Usaha Berbasis Inovasi
Konsep wastepreneurship yang diusung tim pengabdian ertujuan mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar pengelola sampah menjadi pelaku usaha berbasis inovasi lingkungan.
Model bisnis ini berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi desa sekaligus menyelaraskan aktivitas ekonomi dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini diharapkan mampu melahirkan unit usaha pengelolaan limbah yang mandiri dan mudah direplikasi di wilayah lain. Helen menekankan, kampus memproyeksikan inisiatif tersebut tidak hanya mampu menekan angka pencemaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara sistematis dan jangka panjang.





