- Situasi pasar kerja dalam lima tahun terakhir tidak menentu. Angka pengangguran tinggi, daya beli rendah, laju ekonomi yang melambat. Belum lagi maraknya ancaman PHK massal dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
JOGJA, bisnisjogja.id – Kecenderungan untuk tetap bertahan dalam satu pekerjaan meskipun tak lagi memiliki minat dan motivasi menjadi perhatian banyak pihak. Kondisi yang dikenal sebagai job hugging itu terjadi akibat ketidakpastian lapangan kerja.
Selain itu, pekerja terpaksa melakukan job hugging agar dapat bertahan hidup. Belum lagi maraknya ancaman PHK massal dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
”Fenomena tersebut sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan sudah ada sejak dahulu. Situasi pasar kerja yang cukup sulit, menjadi salah satu faktor masyarakat cenderung bertahan pada pekerjaannya,” ungkap Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Tadjuddin Noer Effendi.
Banyak pekerja berpikir mencari pekerjaan baru memiliki risiko yang tinggi. Akibatnya, mereka cenderung memilih bertahan pada pekerjaan lama meskipun tak lagi ada motivasi.
Selain itu, faktor keamanan finansial dan stabilitas menjadi alasan paling dominan dalam job hugging meskipun situasi kerja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
”Lebih baik bertahan dengan pekerjaan yang ada saat ini daripada mengambil keputusan yang cukup berisiko dan belum pasti untuk ke depannya,” ujarnya menilai fenomena tersebut.
Tidak Menentu
Tadjuddin melihat situasi pasar kerja dalam lima tahun terakhir tidak menentu. Angka pengangguran tinggi, daya beli rendah, laju ekonomi yang melambat.
Permasalahan ini juga memiliki efek domino terhadap serapan tenaga kerja baru terutama untuk fresh graduate.
”Nah, inilah yang menyebabkan tingginya angka pengangguran. Saat ini mencapai 7,4 persen dan tertinggi di Asia Tenggara. Mayoritas dari pengangguran adalah usia pencari kerja antara usia 15 – 24 tahun,” jelasnya.
Banyak yang mencari jalan pintas dengan menambah pekerjaan di samping melakoni pekerjaan utama. Hal itu dilakukan daripada harus mengambil resiko dengan melepaskan pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan baru yang belum pasti.
Masyarakat lebih memilih menambah pemasukan dari pekerjaan sampingan seperti freelance atau bisnis kecil-kecilan.





