LazisMU Perkuat Kemandirian Pelaku Usaha Ayam Potong

oleh -14 Dilihat
PELATIHANL Narasumber dan peserta pelatihan digital marketing bagi pelaku usaha mikro ayam potong.(Foto: dok UAD)

JOGJA, bisnisjogja.id – Upaya membangun kemandirian ekonomi umat kini bergeser dari sekadar bantuan sosial konsumtif menuju program pemberdayaan yang berkelanjutan. Semangat inilah yang melandasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam menggelar pelatihan digital marketing bagi pelaku usaha mikro ayam potong binaan LazisMU.

Program kolaboratif bertajuk ”Pelatihan Digital Marketing Berbasis Pada Prinsip Pemasaran Sosial Produk Ayam Potong Bagi Transformasi Mustahik Menjadi Muzakki” ini diselenggarakan bersama PT Lancar Laju Barokah pada Minggu (17/05/2026).

Inisiasi pengabdian yang dipimpin oleh dosen Magister Manajemen (MM) UAD, Dr Zunan Setiawan bersama tim mahasiswa ini telah berjalan dinamis sejak Desember 2025.

Pelatihan menyasar langsung kebutuhan riil pelaku usaha mikro dalam ekosistem binaan LazisMU agar mampu beradaptasi dengan iklim bisnis modern. Menurut Ketua Pengusul, Zunan Setiawan, suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif karena para peserta dari kalangan mustahik serta pelaku usaha kecil tampak sangat antusias mengikuti setiap tahapan.

”Para peserta yang berasal dari kalangan mustahik dan pelaku usaha kecil tampak antusias mengikuti setiap tahapan,” jelas Zunan.

Strategi Jangka Panjang

Zunan menambahkan, transformasi mustahik menjadi muzakki memerlukan strategi jangka panjang, menengah, dan pendek melalui peningkatan kapasitas usaha serta kejelian membaca pasar. Oleh sebab itu, kurikulum pelatihan sengaja dirancang dengan pendekatan sederhana dan aplikatif agar mudah diserap oleh pelaku usaha konvensional.

Pada sesi awal, para peserta diajak memetakan profil pelanggan, mulai dari mengenali karakteristik konsumen hingga faktor penentu keputusan pembelian. Sesi ini dinilai krusial mengingat mayoritas pedagang ayam potong masih mengandalkan pola penjualan tradisional tanpa adanya analisis pasar yang terukur.

Selanjutnya, peserta dibekali dengan strategi pembeda di tengah ketatnya persaingan bisnis komoditas hewani. Zunan mengungkapkan bahwa materi lanjutan sengaja membahas teknik diferensiasi sederhana, di mana pedagang diajarkan mengkreasikan nilai tambah lewat kebersihan produk, ketepatan distribusi, pelayanan terbaik, hingga pengemasan yang menarik.

Aspek kepercayaan dan reputasi juga menjadi sorotan utama dalam pembekalan, di era digital di mana konsistensi kualitas serta kejujuran informasi dinilai sebagai fondasi utama loyalitas pelanggan. Selain taktik dagang, pelatihan ini juga mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam operasional bisnis sehari-hari melalui sesi khusus.

”Salah satu sesi yang mendapat perhatian besar adalah pembahasan mengenai prinsip pemasaran sosial berbasis nilai Syariah,” jelas Zunan terkait pentingnya transparansi harga dan etika usaha.

No More Posts Available.

No more pages to load.