”Kegiatan jamasan pusaka atau tosan aji bukanlah semata prosesi pembersihan benda bersejarah, melainkan laku budaya yang sarat makna dan penghormatan”.
JOGJA, bisnisjogja.id – Paguyuban ”Lar Gangsir”” menggelar jamasan tosan aji atau pusaka dengan tema ”Hangruwat Ageman Hangrimat Paseduluran”. Jamasan berlangsung di Gantari Laras Resto Keluarga di Kawasan Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Sebanyak 70 peserta mengikuti jamasan membawa tosan aji koleksinya. Jamasan merupakan upacara tradisional Jawa yang melibatkan pembersihan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan senjata tradisional lainnya.
Tujuan jamasan, merawat benda-benda tersebut secara fisik dan juga menjaga nilai-nilai filosofis dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Jamasan biasanya dilakukan pada bulan Suro atau Muharram, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pelestarian budaya.

”Kegiatan jamasan pusaka atau tosan aji bukanlah semata prosesi pembersihan benda bersejarah, melainkan laku budaya yang sarat makna dan penghormatan,” jelas Ketua Paguyuban ”Lar Gangsir”, A Totok Budisantoso.
Menurut Totok, melalui jamasan, manusia ngruwat, meluruhkan lebu lahir batin yang melekat pada pusaka, sekaligus menyucikan kembali niat dan tekad sebagai pewaris budaya.
Prosesi Sakral
”Pusaka bukan sekadar warisan materi, tetapi pancaran nilai, kebijaksanaan, dan keteladanan dari para leluhur,” tegas Totok.
Ia menuturkan merawat tosan aji berarti merawat persaudaraan, menjaga harmoni, mempererat rasa kebersamaan, dan merawat jalinan antar generasi dalam semangat gotong royong dan welas asih.
Tradisi jamasan tosan aji, setidaknya mempunyai lima arti penting. Pertama, makna spiritual yaitu jamasan bukan sekadar pembersihan fisik, tetapi juga merupakan prosesi sakral yang bertujuan untuk menyucikan jiwa dan menguatkan akar budaya.
Kedua, pelestarian budaya yaitu menjadi momentum penting dalam melestarikan warisan budaya Jawa dan memperkenalkan nilai-nilai tradisional kepada generasi muda.

Ketiga, edukasi masyarakat yaitu jamasan juga bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara merawat benda-benda pusaka dan memahami makna di baliknya.
Keempat. prosesi yaitu biasanya diawali dengan kirab pusaka dari museum atau tempat penyimpanan menuju lokasi jamasan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pembersihan pusaka oleh juru jamas.
Kelima, tadisi yaitu jamasan tosan aji sering dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam (1 Muharram) dan dilakukan pada hari Jumat Kliwon menurut kalender Jawa.
”Semoga laku jamasan ini menjadi cermin kesadaran kolektif kita untuk terus menghargai pusaka, melestarikan tradisi, serta menguatkan jati diri bangsa melalui semangat paseduluran yang tulus dan luhur,” harap Totok juga dosen FBE UAJY.





