Pentingnya Membangun Ruang Ekonomi Kreatif untuk Difabel

oleh -354 Dilihat
DISABILITAS: Tim Fisipol UMY yang menggagas ruang ekonomi kreatif untuk penyandang disabilitas.(Foto: istimewa)

 

Penyandang disabilitas berhak mendapatkan akses yang layak dan pemberdayaan yang memadai. Sayangnya, stigma sosial masih sangat kuat, dan sangat sedikit ruang ekonomi yang memberdayakan difabel.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Bukan rahasia lagi, penyandang disabilitas seakan-akan menjadi warga kelas dua dalam perekonomian nasional. Karena itu, semakin penting membangun ruang ekonomi kreatif bagi penyandang disabilitas sebagai wujud nyata ekonomi inklusif.

Melihat realitas di masyarakat, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membuat esai berjudul ”Kanjang Bazar: Membangun Ruang Ekonomi Kreatif Inklusif sebagai Wadah Pemberdayaan Difabel di Kedungkandang Kota Malang”.

Esai itu mereka kompetisikan dan meraih medali silver dan penghargaan best paper dalam kompetisi esai nasional, Idea Fest 3. Peserta kompetisi sebanyak 350 mahasiswa dari berbagai universitas seluruh Indonesia dan berlangsung di Malang.

Kelima mahasiswa tersebut, Rasya Raditya Hariana (Ilmu Pemerintahan 2023) selaku ketua tim, serta anggota lainnya, Adinda Putri Jamal (Hubungan Internasional 2023), Refa Syariifah Octaliefia (Hubungan Internasional 2024), Rangga Andika Putra, dan Syifa Auliana (Ilmu Komunikasi 2024).

Kendati berasal dari bidang ilmu sosial dan politik, Rasya bersama timnya berhasil mengintegrasikan penelitian tentang pemberdayaan difabel dengan pendekatan ekonomi kreatif.

Mereka mengkaji UU Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang menjadi dasar hukum utama terkait hak-hak penyandang disabilitas, serta data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai penyandang disabilitas di Kecamatan Kedungkandang, Malang.

Akses Layak

”Penyandang disabilitas berhak mendapatkan akses yang layak dan pemberdayaan yang memadai. Sayangnya, stigma sosial masih sangat kuat, dan sangat sedikit ruang ekonomi yang memberdayakan difabel,” ungkap Rasya.

Ia menjelaskan,konsep pemberdayaan ekonomi kreatif yang mereka ajukan berfokus pada pelatihan dan pendampingan UMKM dengan konsep penyelenggaraan yang ramah difabel.

Puncak kegiatan yakni festival bazar dari UMKM difabel yang telah dibina sebelumnya. Mereka berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan mulai dari akademisi, pemerintah, hingga instansi swasta.

”Kanjeng Bazar terinspirasi dari salah satu dosen kami yang telah melakukan pengabdian di kecamatan di Bantul. Kanjeng Bazar akan memiliki akses yang ramah difabel, dengan pusat informasi, serta guide dan translator dari komunitas difabilitas,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.