- Keselamatan alam hanya dimungkinkan karena kebijakan manusia, jadi jangan merusak alam.
- Kawasan selatan sebagai motor pertumbuhan baru memerlukan pendekatan ekonomi biru dan ekonomi hijau.
- Investasi masa depan harus menyasar sektor pariwisata berkelanjutan di kawasan geopark dan industri pengolahan hasil laut.
JOGJA, bisnisjogja.id – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, kembali mengeluarkan pernyataan tegas terkait arah kebijakan ekonomi daerah. Ia menginstruksikan, setiap investor yang melirik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) wajib mengedepankan prinsip kelestarian alam sebagai syarat mutlak dalam menjalankan bisnisnya.
Kebijakan tersebut merupakan turunan dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, di mana pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan keseimbangan ekosistem.
Sultan mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan mayoritas terjadi karena ulah manusia, dan dampak bencana yang ditimbulkan akan jauh lebih mahal harganya bagi masyarakat.
“Kami konsen tidak merusak alam, sehingga untuk investasi pun kami lihat-lihat. Kalau hanya akan merusak alam atau pencemaran lingkungan, lebih baik tidak usah masuk di Jogja,” tegas Sri Sultan usai menghadiri Rakordal DIY Triwulan I Tahun 2026 di Kompleks Kepatihan.
Investasi Berkelanjutan
Fokus utama pembangunan diarahkan pada ”Investasi yang Berkelanjutan di Kawasan Selatan”. Wilayah pesisir selatan DIY, mulai dari Bantul, Kulon Progo, hingga Gunungkidul, diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru melalui pendekatan ekonomi biru dan ekonomi hijau.
Meski memiliki potensi besar di sektor kelautan, pariwisata, dan UMKM, Sultan mengakui adanya kendala struktural berupa keterbatasan infrastruktur.
Akses yang ada saat ini, seperti Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan jalan tol, dinilai masih dominan menghubungkan arus barat ke timur namun minim jalur vertikal.
“Saya butuh jalan dari selatan ke utara atau sebaliknya untuk memasarkan produk laut. Kualifikasi jalannya pun harus setara untuk kendaraan besar, bukan sekadar jalan desa. Jika konektivitas tidak mapan, potensi ekonomi kawasan selatan tidak akan bisa keluar secara optimal,” papar Sultan.
Visi pembangunan itu selaras dengan RPJMD DIY 2022-2027 yang menargetkan “Pancamulia”. Melalui investasi berkelanjutan, pemerintah daerah berupaya mengikis ketimpangan ekonomi dan kemiskinan di selatan, sekaligus menanggulangi kerentanan wilayah terhadap risiko bencana pesisir.
Data Ekonomi Makro
Data ekonomi makro DIY menunjukkan tren positif di awal 2026. Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, melaporkan pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 5,49 persen (C-to-C). Angka ini tumbuh lebih impresif dibandingkan capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sektor industri pengolahan, akomodasi, serta pertanian dan perikanan masih menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi kumulatif sebesar 52,29 persen.
Di sisi lain, laju inflasi hingga Maret 2026 tercatat di angka 4,08 persen (y-on-y) yang dinilai masih dalam batas terkendali meski tetap memerlukan kewaspadaan.
Sekda menekankan, investasi masa depan harus menyasar sektor pariwisata berkelanjutan di kawasan geopark dan industri pengolahan hasil laut.
Investasi kini menjadi tanggung jawab bersama lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), bukan sekadar urusan satu pintu, demi mewujudkan ekonomi yang lestari.





