Peserta ”BI Sapa Akademisi” Kunjungi Perum Peruri dan Museum BI

oleh -363 Dilihat
CETAK UANG: Peserta ''BI Sapa Akademisi'' mengunjungi Perum Peruri yang mencetak uang rupiah.(Foto: Y Sri Susilo)

JOGJA, bisnisjogja.id – Agenda hari kedua ”BI Sapa Akademisi” Departemen Komunikasi Bank Indonesia (Dekom BI), mengunjungi Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) dan Museum BI, Kamis (8/5/2025).

Perum Peruri berlokasi di Desa Parung Mulya, Ciampel, Karawang, Jawa Barat sedangkan lokasi Museum BI di wilayah Kota Lama, Taman Sari, Jakarta Barat.

Tujuan kunjungandi kedua tempat tersebut untuk menambah informasi dan wawasan peserta. Ternyata mayoritas peserta belum pernah mengunjungi Perum Peruri dan Museum BI.

”Dari Perum Peruri, uang negara diproduksi dan beredar di masyarakat. Uang kartal yang diproduksi oleh Perum Peruri dicetak atas pesanan BI. Sejumlah tahapan yang sangat ketat harus dilewati untuk mencetak setiap lembar rupiah,” ungkap Guru Besar FEB Unair Surabaya, Wasiaturahma yang biasa dipanggil Rahma.

Menurutnya, produksi uang di Perum Peruri menggunakan teknologi tinggi dan unsur pengamanannya sangat tinggi. Terdapat tiga unsur pengaman pada bahan uang Rupiah yakni, watermark, elektrotype dan benang pengaman.

Teknik Intaglio

Informasi dari Perum Peruri, pencetakan sudah menggunakan teknik intaglio. Teknik cetak intaglio memiliki unsur pengaman paling tinggi dibandingkan teknik cetak lain.

Hasil cetak teknik tersebut memunculkan elemen halus sampai tebal dan akan terasa kasar apabila diraba. Dengan demikian dapat memudahkan pengguna uang kertas mengidentifikasi keaslian uang rupiah sekaligus mempersulit pemalsuan.

”Pemalsuan uang yang terjadi saat karena pengetahuan sebagaian masyarakat terhadap uang kertas rupiah masih terbatas,” jelas peserta dari FEB Unika Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko.

Menurut Suhartoko sebagian masyarakat belum terinformasi dan terdukasi mengenai uang kertas yang dikeluarkan oleh BI. Secara teknis uang rupiah produksi Perum Peruri sulit untuk dipalsukan.

Berkaitan peredaran uang palsu dan belum terinfo serta teredukasinya sebagian masyarakat maka sosialisasi oleh BI menjadi relevan dan penting.

Sosialisasi terkait Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, termasuk di dalamnya mengenali ciri-ciri keaslian uang rupiah harus tetap dilanjutkan dan diselenggarakan oleh BI lebih intensif.

Seperti diketahui ”Cinta Rupiah” diwujudkan dengan senantiasa menyayangi rupiah dengan mengenali ciri keaslian uang rupiah yaitu Dilihat, Diraba dan Diterawang (3D).

Hal penting merawat rupiah yang dimiliki dengan baik yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan di stapler dan jangan sampai basah kena air atau cairan lainnya.

Kota Tua

KOTA TUA: Peserta ”BI Sapa Akademisi” berada di Kota Tua Jakarta.(Foto: Y Sri Susilo)

Setelah dari Perum Peruri di Karawang, 51 peserta ”BI Sapa Akademis” di Kawasan Kota Tua Jakarta. Museum Bank Indonesia (BI) menyimpan banyak nilai sejarah tentang keuangan Indonesia.

”Museum BI tidak hanya memamerkan benda penting seputar keuangan Indonesia, beberapa bagian museum juga memiliki daya tariknya unik, termasuk bangunan heritage museum tersebut,” jelas Guru Besar FEB Undip, Nugroho SBM.

Koleksi yang ada di Museum BI antara lain merupakan koleksi numismatik, atau benda-benda terkait uang, seperti uang kertas, dan uang koin.

Token dan benda-benda terkait lainnya yang pernah beredar dan digunakan untuk transaksi oleh masyarakat juga dipamerkan di museum tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.