JOGJA, bisnisjogja.id – Petani biasanya menggunakan mulsa (penutup tanah) dari plastik. Ini menjadi persoalan karena plastik tidak ramah lingkungan dan tak mudah terurai.
Mulsa merupakan penutup bedengan tanah agar menghambat tumbuhnya gulma, melindungi tanah dari erosi, menjaga struktur tanah. Penggunaan mulsa plastik menghasilkan banyak limbah plastik yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menumpuk dan mengganggu lingkungan tanah di lahan pertanian.
Melihat situasi demikian, mahasiswa UGM membuat mulsa alternatif berbahan baku alami dari eceng gondok dan limbah cangkang telur.
Mereka yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), lima mahasiswa UGM terdiri atas Salfa Alifia Putri, Erelyne Erlina, Aimmatul Husna dari Fakultas Pertanian, Fanisa Esa Alfira dari Fakultas Biologi, dan Jane Angguningtyas Deanani dari Sekolah Vokasi membuat inovasi baru.
Mereka membuat SABI atau Mulsa Organik. Kelima mahasiswa mendapat bimbingan dari dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian, Nasih Widya Yuwono MP dalam proses pembuatan Mulsa organik.
Bahan Organik
Ketua Tim PKM-K SABI, Salfa Alifia Putri menjelaskan mulsa organik terbuat dari bahan yang mudah diperoleh dan melimpah di sekitar lahan yaitu eceng gondok dan cangkang telur.
Dengan memanfaatkan bahan organik yang melimpah, biaya produksi dapat ditekan, sehingga petani maupun masyarakat dapat merasakan manfaat ganda dari aspek lingkungan dan ekonomi.
”Produk ini kami hadirkan sebagai pilihan bagi petani maupun masyarakat yang ingin beralih ke metode yang lebih ramah lingkungan,” tutur Salfa.
Proses pembuatan mulsa organik membutuhkan waktu tiga-empat jam di Lab Pakan Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, UGM. Dalam sekali produksi, mereka bisa menghasilkan 50-60 unit produk. Produk berbentuk lingkaran dengan diameter 30 cm, menyesuaikan besarnya pot tanaman ukuran sedang.
Menurut Salfa, mulsa Organik mampu mempertahankan kelembaban tanah lebih lama, mengurangi erosi, serta menekan pertumbuhan gulma. Selain itu, pertumbuhan tanaman menjadi lebih sehat serta produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman tanpa mulsa.
”Mulsa organik dapat terurai secara alami, juga menyumbangkan unsur hara bagi tanah saat proses dekomposisi sekaligus menjadi pupuk organik bagi tanaman. Mulsa kami menjadi pilihan alternatif yang ramah lingkungan, dengan tujuan mendukung petani yang ingin mengurangi penggunaan mulsa plastik konvensional,” paparnya.





