JOGJA, bisnisjogja – Perkembangan teknologi, terutama artificial intelligence (AI), dapat menjadi alat yang membantu sekaligus mencelakakan. Tergantung bagaimana ekosistem media menanggapinya.
Pengajar Kajian Media dan Jurnalisme dari UII Yogyakarta Prof Masduki mengungkapkan itu ketika berdiskusi dalam “Trend Perilaku Masyarakat dalam Mengkonsumsi Informasi”.
Diskusi merupakan agenda Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang berlangsung di Hyatt Regency Yogyakarta.
Ia membahas berbagai isu mulai dari perubahan perilaku konsumsi media pasca disrupsi digital, media sosial, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Dalam paparannya, Masduki menyebut model bisnis media berita kini menghadapi fenomena baru yang menuntut adaptasi cepat.
Ide Baru
Menurutnya, lembaga-lembaga media perlu membangun ide pembaruan, termasuk mendorong Dewan Pers agar mengambil langkah lebih strategis dalam menjaga keberlanjutan media berkualitas.
”Ini mungkin masih sebuah mimpi, tetapi semoga terwujud. Kita harus memelihara konten yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif dan relevan,” ujarnya.
Masduki juga menyoroti lemahnya keberanian pemerintah memanggil platform-platform digital besar dalam isu regulasi konten. Ia menilai satu-satunya cara saat ini adalah memperkuat kolaborasi antara media, regulator, dan platform.
Karena itu, Dewan Pers perlu membentuk lembaga yang mampu mengawasi hubungan antara publisher dan platform serta mendorong penanganan konten yang tidak jelas asal-usulnya.
Dalam diskusi tersebut, ia menekankan pentingnya konten lokal dan media lokal sebagai penguat identitas. Kesetiaan pada konten berbasis komunitas, menurutnya, harus dibangun kembali melalui habit sosial dan perilaku konsumsi informasi yang lebih sehat.





