Remaja Sehat, Masa Depan Hebat

oleh -367 Dilihat
Sri Annisapada Jamaru.(Foto: istimewa)

MEMBANGUN bangsa tidak harus selalu lewat hal besar. Bisa dimulai dari ruang-ruang kecil di rumah, meja makan, ruang tamu, bahkan dari obrolan singkat di depan cermin.

Salah satu yang sering luput, padahal begitu penting, adalah percakapan jujur antara orang tua dan anak tentang kehidupan, tubuh mereka yang berubah, dan dunia yang makin tidak sederhana.

Remaja hari ini hidup dalam pusaran tantangan yang lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Di satu sisi, mereka lebih terbuka terhadap informasi dari internet. Tapi di sisi lain, belum tentu mereka mendapat pendampingan yang cukup untuk memilah mana yang benar, mana yang berbahaya.

Apalagi saat bicara soal kesehatan reproduksi, kesehatan mental, dan pernikahan dini topik-topik yang sering dianggap tabu, padahal dampaknya nyata.

Kita tahu, angka kehamilan remaja di Indonesia masih tinggi. Belum lagi banyaknya kasus pernikahan dini yang justru terjadi dengan restu orang tua, dengan alasan ”daripada malu”. Mirisnya, ada yang menikah karena takut ”aib”, padahal belum benar-benar paham makna komitmen dalam pernikahan.

Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang akhirnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan baru, putus sekolah, hingga gangguan mental.

Ruang Aman

Saya percaya, semua ini bisa dicegah, asal kita berani membuka ruang aman untuk edukasi. Bukan hanya lewat seminar atau brosur di sekolah, tapi lewat percakapan hangat yang memberi ruang bertanya tanpa takut dihakimi.

Edukasi tidak harus selalu datang dari pakar, bisa dimulai dari orang tua yang mau belajar dan mendengarkan. Kita sering lupa bahwa remaja butuh didengar, bukan dihakimi.

Mereka butuh pemandu, bukan penghakiman. Memberi mereka pemahaman soal tubuh, emosi, dan pilihan hidup bukan berarti mendorong mereka untuk ”berani macam-macam”, tapi justru membekali mereka agar tahu cara menjaga diri.

Beberapa waktu lalu, ramai kasus pernikahan anak di usia 14 tahun yang viral di media sosial. Banyak yang mencibir, sebagian lagi menganggap wajar karena ”sudah biasa di kampung”.

Tapi pertanyaannya, sejak kapan hal yang biasa berarti benar?

Remaja bukanlah orang dewasa dalam tubuh kecil. Mereka masih bertumbuh, mencari jati diri, dan layak mendapat kesempatan untuk merancang masa depan yang mereka pilih sendiri.

Itulah mengapa pendidikan kesehatan reproduksi dan mental harus diberikan sejak dini. Tapi ingat, pendekatannya bukan dengan menakut-nakuti, melainkan dengan empati. Saat remaja merasa dipahami, mereka akan lebih mudah diajak berdiskusi.

Bangsa yang hebat dimulai dari generasi yang sehat fisik, mental, dan moral. Dan generasi itu tidak tumbuh begitu saja. Mereka butuh dibimbing, didampingi, dan yang terpenting: didengarkan.

Mari kita mulai dari rumah, dari obrolan kecil, dari keberanian untuk membicarakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu.

Masa depan Indonesia tidak hanya soal infrastruktur atau ekonomi, tapi juga tentang seberapa siap generasinya menghadapi hidup dengan penuh kesadaran dan pilihan.

  • Penulis, Sri Annisapada Jamaru, Mahasiswa Magister Kebidanan Unisa Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.