DI TENGAH turbulensi nilai tukar rupiah yang menyentuh lebih Rp17.500 per dollar AS dan IHSG yang kembali terjerembab, Menkeu Purbaya menyatakan segara mengaktifkan bond stabilization fund (BSF) mulai kemarin (13 Mei 2026). Sejak diwacanakan beberapa bulan yang lalu, polemik tentang BSF ini sudah cukup ramai diperdebatkan di kalangan ekonom, terutama para ekonom yang lebih intens mengamati pergerakan pasar keuangan dan bursa efek.

PELEMAHAN rupiah tidak selalu dapat dibaca sebagai sinyal bahwa mata uang nasional telah undervalued dan akan segera kembali menguat secara alamiah. Dalam situasi global ketika pasar obligasi Amerika Serikat menekan pemerintah besar sekalipun, pelemahan rupiah justru bisa mencerminkan kegagalan membaca risiko, atau dalam bahasa yang lebih telanjang: stupidity kebijakan.

PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan ”orang rakyat di desa enggak pake dolar kok”. Pernyataan tersebut disampaikan pada saat memberikan sambutan dalam acara peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur (Sabtu, 16/05/2026). Pernyataan Prabowo tersebut menjadi headline atau viral di banyak media, termasuk media online dan sosial media.

KONDISI perekonomian Indonesia saat ini menunjukkan kombinasi tekanan eksternal dan kelemahan domestik yang tidak bisa lagi dianggap sebagai siklus biasa. Pelemahan IHSG hingga 18,49 persen, depresiasi rupiah yang menembus Rp 17.400 per dolar AS (bahkan lebih tinggi di pasar offshore), serta net foreign sell yang mencapai Rp 32,9 triliun mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

MELEMAHNYA daya beli masyarakat bukan sekadar gejala siklus ekonomi, melainkan sinyal adanya tekanan struktural yang berdampak langsung pada keberlangsungan UMKM. Dalam beberapa waktu terakhir, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dihadapkan pada kondisi yang semakin kompleks, yakni permintaan yang cenderung melambat, sementara tekanan biaya produksi terus meningkat.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.