JOGJA, bisnisjogja.id – Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan darurat limbah tekstil yang volumenya mencapai 2,3 juta ton per tahun. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mirisnya kurang dari 5 persen atau hanya sekitar 0,3 juta ton limbah pakaian yang berhasil didaur ulang secara efektif.
Merespons persoalan lingkungan tersebut, empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berinisiatif menghadirkan ReStitch. Brand fashion sirkular berbasis limbah kain perca batik sebagai solusi nyata pengelolaan limbah industri garmen.
Inovasi bermula dari riset lapangan yang mendalam terhadap 15 penjahit lokal di kawasan Kasihan, Bantul. Dari penelusuran tersebut, terungkap fakta bahwa setiap penjahit rumahan rata-rata menghasilkan 2 hingga 5 kilogram limbah perca setiap bulannya tanpa memiliki nilai jual sama sekali.
Kemitraan dengan Penjahit Lokal
Temuan tersebut mendorong tim ReStitch membangun sistem kemitraan langsung dengan para penjahit lokal di Bantul. Jaringan kemitraan ini tidak hanya berperan sebagai dapur produksi utama, tetapi juga menjadi penjamin keberlanjutan pasokan bahan baku kain perca bagi keberlangsungan bisnis.
Melalui sentuhan kreativitas tinggi, limbah kain yang semula tidak bernilai disulap menjadi ragam produk fesyen fungsional. Lini produk unggulannya meliputi Tas Ready-Made, Keychain Ready-Made, ReStitch Signature Bundle, hingga paket DIY Keychain Kit yang ramah bagi pemula.
Keunikan lain dari produk mereka terletak pada penyematan fitur QR Code Story di setiap itemnya. Fitur transparan tersebut memungkinkan pembeli untuk menelusuri secara langsung rekam jejak asal-usul kain yang digunakan pada produk yang mereka beli.
Bantu Pelaku Usaha Lokal
“Kami tidak ingin ReStitch hanya menjadi produk yang bagus di foto. Kami ingin setiap pembeli merasakan bahwa ada penjahit yang terbantu dan budaya batik yang terus hidup,” ujar CEO ReStitch, Nuha Amaliya, saat diwawancarai secara daring pada Senin (10/8/2026).
Berkat inovasi sosial dan lingkungan yang diusungnya, ReStitch berhasil menyabet penghargaan Inovasi Mahasiswa Terbaik pada ajang SIE EXPO 2026 serta lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.
Didukung hasil riset di mana 84 persen responden bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan, produk ReStitch kini resmi dipasarkan ke publik luas dengan kisaran harga mulai dari Rp 18.000 hingga Rp 260.000.







