Saatnya Pemerintah Lakukan Deregulasi dan Debirokratisasi

oleh -399 Dilihat
Wakil Ketua Kadin DIY, Robby Kusumaharta.(Foto: Priyo Wicaksono)

JOGJA, bisnisjogja.id – Ramadan saat yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi pada semua kebijakan, terutama ekonomi. Dua hal yang penting pada evaluasi yakni membuka keran untuk deregulasi dan debirokratisasi.

”Saatnya sekarang Pemerintahan Prabowo Subianto harus melakukan deregulasi dan debirokratisasi agar roda ekonomi dapat lebih cepat bergerak,” tandas Wakil Ketua Kadin DIY, Robby Kusumaharta.

Ia menyampaikan permintaan itu pada diskusi menjelang berbuka puasa, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta. Diskusi bertema ”Berkah Ramadan” berlangsung di Hotel Alana, Yogyakarta, Sabtu (8/3/2025).

Iklim Investasi

Menurutnya, pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif bagi investor asing dan domestik. Perlu kemudahan misalnya dalam bentuk perizinan, regulasi maupun insentif lainnya.

Mengapa hal itu perlu? Robby menekankan peningkatan investasi identik dengan pembukaan lapangan kerja baru. Anak-anak muda sangat membutuhkan lapangan kerja tersebut.

”Iklim kompetisi juga harus lebih fair bagi pelaku domestik dan asing. Pelaku domestik juga harus mendapatkan perlindungan agar mampu bersaing. Selain itu, pemerintah harus profesional dan menerapkan kebijakan sesuai dengan regulasi serta menjauhi sikap dan perbuatan yang cenderung korupsi, kolusi dan nepotisme,” tegasnya.

Hambat Pertumbuhan

Guru besar ekonomi, Lincolin Arsyad mengungkapkan salah satu yang menghambat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yakni KKN. Ia menegaskan, mereka yang menikmati korupsi merupakan pihak tertentu, pribadi maupun kelompok.

”Kita lihat nanti bagaimana Presiden Prabowo memberantas korupsi, kita coba tunggu,” ujar Lincolin.

Narasumber lain, akademisi FEB UGM, Gumilang Aryo Sahadewo menyinggung Ramadan yang memberi peluang kepada usaha mikro dan kecil untuk berinovasi. Mereka juga melakukan diferensiasi produk dan layanan untuk menyesuaikan suasana dan tema Ramadan.

”Contoh sederhana, inovasi packing untuk hampers. Budaya inovasi berkelanjutan menjadi salah satu strategi UMKM untuk adaptif terhadap perubahan permintaan pasar,” paparnya.

Manfaatkan Peluang

Deputi Kepala KPwBI DIY, Hermanto menambahkan, banyak kegiatan di masjid, kampung dan tempat lain yang menjadi berkah bagi pelaku UMKM. Peningkatan kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan Idulfitri menjadi peluang bagi yang bisa memanfaatkan.

”Bagi pelaku UMKM, Ramadan memberi berkah, sebagaimana tradisi masyarakat kita yang membutuhkan takjil dan makanan buat berbuka puasa,” sambung Kepala OJK DIY, Eko Yunianto.

Kecuali industri makanan dan minuman, ada sektor lain yang juga terdampak yakni pakaian dan buah tangan. Banyak orang mulai membelanjakan uang untuk busana dan oleh-oleh yang bakal dibawa mudik.

Rektor Universitas Widya Mataram, Edy Suandi Hamid menjelaskan setiap Ramadan ada semacam ”subsidi” atau transfer payment dari orang berpunya mereka yang kurang mampu. Masyarakat kurang mampu akan membelanjakan uang bantuan untuk berbagai keperluan.

”Dorongan konsumsi berkontribusi selama Ramadan. Hal ini positif untuk menstimulus perekonomian sepanjang tidak terkonsentrasi pada satu-dua produk saja,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.