Tantangan Generasi Mendatang di Industri Perbankan

oleh -43 Dilihat
SEMINAR: Narasumber menyampaikan paparan dalam seminar di FEB UAD.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahkan (FEB UAD) menyelenggarakan seminar yang bertajuk ”The Future of Microfinance: Digital Transformation, Financial Inclusion & Opportunities for the Next Generation”. Seminar tersebut diselenggarakan di Kampus FEB UAD, Yogyakarta, Rabu (17/06/2026) dengan dukungan ISEI Cabang Yogyakarta, Kadin DIY dan Bank BPD DIY.

Hadir selaku narasumber Dian Ari Ani (Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY), Edi Sunarta (Dirut BPR Suariah BDS), dan Desta Rizky K (Dosen Prodi Manajemen FEB UAD/Kepala Biro keuangan dan Anggaran UAD).

Selaku moderator adalah Suci Nur Azzara (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UAD). Seminar dibuka Dini Yuniarti (Dekan FEB UAD), Tina Sulistyani (Kaprodi Manajemen FEB UAD), dosen dan mahasiswa FEB UAD. Peserta semenar mencapai 200 orang.

”Dalam industri keuangan dan perbankan ada sejumlah tantangan yang dihadapi generasi muda,” ungkap Dian Ari Ani yang juga Bendahara ISEI Cabang Yogyakarta.

Lima Tantangan

Menurut Dian, setidaknya ada lima tantangan termaksud, yaitu, digital life, FOMO (Fear Of Missing Out), pinjaman online ilegal, penipuan digital, dan investasi bodong. Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu Smart Financial Behavior bukan hanya Smart Technology User.

Karena itu, generasi muda harus memahami belanja lebih kecil dari pendapatan, menabung terlebih dahulu sebelum membelanjakan uang, mempersiapkan masa depan sejak muda dan melindungi diri dari risiko dan penipuan.

Apakah profesi bankir saat ini menjanjikan bagi generasi muda? Menurut Dian yang juga WKU Bidang Keuangan, Perbankan dan Pasar Modal Kadin DIY, jawabannya masih menjanjikan.

”Ya, namun kebutuhan kompetensinya berubah. Bank membutuhkan talenta yang adaptif, analitis, dan berintegritas,” jelas Dian.

Tenaga Ahli

Peluang karir di perbankan tetap prospektif menurut Edi Sunarto yang juga pengurus Kadin DIY. Menurutnya, meskipun dengan pemanfaatan teknologi mengurangi peran beberapa profesi di bank, namun juga melahirkan kebutuhan profesi baru.

Ketatnya pengaturan dan pengawasan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui penerbitan dan pembaruan POJK, menciptakan berbagai profesi baru, semakin banyak dibutuhkan tenaga ahli untuk pemenuhan tenaga kerja yang sesuai dengan POJK.

Ia berharap mahasiswa yang ingin berkarier di industri perbankan harus membekali dengan soft skill. Ketrampilan tersebut berkaitan dengan komunikasi, kepemimpinan, inisiatif dan silaturahmi. Juga tidak kalah penting sejak dini harus membangun relasi seluas-luasnya dengan banyak pihak.

No More Posts Available.

No more pages to load.