JOGJA, bisnisjogja.id – Urgensi layanan kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi kini menjadi perhatian serius karena pengaruhnya yang signifikan terhadap performa akademik dan kualitas hidup mahasiswa.
Mahasiswa yang mengalami hambatan kesehatan mental sering kali kesulitan berkonsentrasi dan memproses informasi, yang jika dibiarkan, dapat berujung pada penurunan prestasi hingga perilaku berisiko seperti isolasi diri dan self-harm.
Menyikapi fenomena tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengambil langkah progresif dengan memperkenalkan Equine-Assisted Therapy atau Terapi Berbasis Kuda.
Metode ini hadir sebagai alternatif solusi bagi penyandang disabilitas, baik fisik maupun mental, guna meningkatkan fokus, empati, hingga regulasi emosi yang sering kali sulit dicapai melalui terapi konvensional di dalam ruangan.
Implementasi terapi unik dimotori Dr Arni Surwanti bersama Retno Widowati PhD yang melakukan uji coba langsung di Afif Stable, Wirokerten, Banguntapan. Kegiatan menyasar kelompok rentan, mulai dari mahasiswa dengan kebutuhan khusus hingga murid-murid dari SLB Muhammadiyah Gamping, guna memberikan pengalaman rehabilitasi yang inklusif dan menyenangkan.
Hadirkan Pakar Internasional
Tidak tanggung-tanggung, UMY menghadirkan pakar internasional untuk memastikan standar keamanan dan efektivitas terapi. Hadir sebagai instruktur adalah Prof Ryuhei Sano dari Hosei University, Jepang, serta Mr Muthusamy dari Riding for Disability Association Malaysia, yang telah memiliki rekam jejak panjang dalam mengimplementasikan terapi kuda di negara masing-masing.
”Kegiatan diikuti 40 peserta dengan berbagai ragam disabilitas. Kami melihat mayoritas peserta sangat antusias mengikuti pelatihan karena ini sesuatu yang baru namun tetap teruji secara akademik,” ujar Arni Surwanti di sela-sela kegiatan.
Ia menekankan interaksi dengan kuda mampu memberikan stimulasi motorik dan sensorik yang luar biasa bagi peserta. Terapi berbantuan kuda mencakup berbagai aktivitas, mulai dari menunggang kuda (hippotherapy), merawat, memberi makan, hingga sekadar berjalan bersama hewan tersebut.
Interaksi fisik seperti menyentuh dan memimpin kuda dipercaya mampu membangun ikatan emosional yang kuat, yang secara medis terbukti efektif bagi penyandang autisme, ADHD, hingga depresi.
Literasi Kesehatan Mental
Langkah tersebut menjadi upaya nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di Indonesia. Mengingat prevalensi gangguan mental yang cukup tinggi di berbagai usia, masyarakat perlu disadarkan bahwa kondisi seperti skizofrenia atau kecemasan adalah kondisi medis yang bisa ditangani, bukan sebuah aib atau tabu yang harus disembunyikan.
Melalui program itu, UMY juga mendorong terciptanya kebijakan yang lebih inklusif agar penyandang disabilitas mental tidak lagi mengalami diskriminasi atau isolasi sosial. Dukungan sosial dan akses terhadap fasilitas kesehatan yang ramah disabilitas menjadi kunci utama agar mereka dapat berfungsi secara optimal di tengah masyarakat.
Penggunaan fasilitas stable sebagai pusat terapi menunjukkan bahwa penyembuhan tidak harus selalu kaku di dalam klinik. Dengan kehadiran terapis dan instruktur profesional, lingkungan terbuka dan interaksi dengan makhluk hidup lain menjadi katalisator bagi perbaikan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan kognitif para peserta secara simultan.
Ke depan, tim pengabdi berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tahap uji coba saja. Arni dan tim menaruh harapan besar agar Equine-Assisted Therapy dapat menjadi agenda rutin atau kegiatan ekstrakurikuler bagi mahasiswa dan murid-murid sekolah, guna menciptakan generasi yang lebih sehat secara fisik dan tangguh secara mental.







