Anak Muda Kesulitan Cari Kerja, Kebijakan Pemerintah Tambal Sulam

oleh -747 Dilihat
Ilustrasi kampus FEB UGM.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Kesulitan anak-anak muda mencari lapangan kerja menjadi sorotan banyak pihak. Bahkan ekonom UGM Wisnu Setiadi Nugroho PhD menilai kebijakan pemerintah mengatasi persoalan ketenagakerjaan masih bersifat tambal sulam dan berorientasi jangka pendek.

”Banyak anak muda, termasuk lulusan universitas ternama, kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka,” ungkap Wisnu, Selasa (11/11/2025).

Ia mengatakan banyak kebijakan pemerintah saat ini cenderung tambal sulam dan jangka pendek. Misalnya, ada masalah tenaga kerja, lalu dibuat program penciptaan lapangan kerja, tapi sifatnya jangka pendek. Jangka panjangnya tidak dipikirkan seperti vertical mismatch dan horizontal mismatch.

Menurutnya, banyak mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi merasa kesulitan mencari pekerjaan, bahkan yang berasal dari kampus besar seperti UGM. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja yang benar-benar sesuai dengan kompetensi masih terbatas.

”Di kampus ada banyak keluhan, kok susah ya mencari kerja padahal lulusan UGM. Ini menjadi satu fakta yang pemerintah harus lihat. Turun, dan dengar bahwa ternyata tidak semudah itu untuk mencari pekerjaan saat ini,” paparnya dalam diskusi ”Desakan Reformasi Kebijakan Ekonomi”.

Selain itu, Wisnu menyebutkan bahwa perhatian terhadap kesejahteraan jangka panjang tenaga kerja, seperti jaminan pensiun atau hari tua yang layak, belum menjadi fokus utama kebijakan pemerintah. Belum ada kebijakan yang benar-benar searah untuk memastikan pekerja bisa hidup mapan di masa depan.

Beri Ruang

Ia juga menyampaikan kritik pada kebijakan beasiswa pemerintah seperti LPDP. Menurutnya, pemerintah belum menyiapkan ekosistem yang mendukung para penerima beasiswa setelah lulus.

”Banyak yang akhirnya tidak pulang ke Indonesia lalu menjadi isu baru mengapa diberikan beasiswa,” ujar Wisnu.

Fenomena tersebut membuat sebagian anak muda kehilangan motivasi. Generasi Z tidak hanya mencari pekerjaan yang mapan, tetapi juga ruang untuk aktualisasi diri. Sistem meritokrasi yang seharusnya memberi ruang bagi mereka yang berprestasi dan berkontribusi justru sering kali tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Banyak anak muda yang telah berjuang keras, menempuh pendidikan tinggi, dan berupaya membangun kapasitas diri, justru tersisih oleh sistem yang tidak selalu adil. Posisi dan kesempatan kadang terisi oleh orang-orang yang muncul secara tiba-tiba tanpa rekam jejak kontribusi yang jelas.

”Ketika kerja keras tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, rasa kecewa dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem pun tak terelakkan di kalangan generasi muda. Pertanyaannya, apa jaminan anak muda bisa sukses di negeri ini, kalau sistemnya belum berpihak pada usaha dan kemampuan mereka?” tanya Wisnu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.