- Tim Pengabdian Masyarakat UMY membenahi sistem administrasi dan tata kelola keuangan Koperasi Merah Putih Hargobinangun.
- Tanpa fondasi keuangan yang sehat dan transparan, koperasi akan sulit mengakses pembiayaan formal maupun membangun kemitraan strategis.
- Kampus berkomitmen pendampingan akan terus berlanjut hingga tercipta kemandirian ekonomi desa.
SLEMAN, bisnisjogja.id – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui tim pengabdian masyarakat skema khusus Program Studi Ekonomi melakukan langkah strategis untuk memperkuat fundamental ekonomi desa.
Tim yang diketuai oleh Khalifany Ash Shidiqi PhD terjun langsung membenahi sistem administrasi dan tata kelola keuangan Koperasi Desa Merah Putih Hargobinangun, Pakem, Sleman.
Langkah pendampingan fokus pada peningkatan akuntabilitas pembukuan sebagai syarat mutlak bagi koperasi sebelum melakukan ekspansi bisnis.
Tim UMY menekankan, tanpa fondasi keuangan yang sehat dan transparan, koperasi akan sulit mengakses pembiayaan formal maupun membangun kemitraan strategis dengan pihak ketiga guna memperbesar skala usaha di masa depan.
Kesulitan Laporan Keuangan
Ketua Koperasi Desa Merah Putih Hargobinangun, Arif Yuwantoro SIP mengakui kapasitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi hambatan utama dalam operasional harian.
Selama ini, pengurus masih kesulitan menyusun laporan keuangan yang sesuai standar kelembagaan karena keterbatasan latar belakang keahlian serta peran ganda pengurus yang memiliki pekerjaan utama di luar koperasi.
“Koperasi dituntut untuk segera mempersiapkan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan laporan yang tertib, padahal pengalaman pengurus dalam menyusun laporan keuangan masih terbatas,” ujar Arif.
Digitalisasi untuk Efisiensi
Khalifany menjelaskan, guna mengatasi kendala teknis, UMY memberikan dukungan konkret berupa hibah satu unit laptop sebagai instrumen digitalisasi administrasi.
Perangkat untuk menggantikan ketergantungan pengurus pada perangkat pribadi, sehingga proses pencatatan, penyimpanan arsip digital, dan penyusunan dokumen lembaga dapat dilakukan secara lebih profesional dan terintegrasi.
Ia menegaskan, digitalisasi menjadi titik balik bagi efisiensi koordinasi antarpengurus. Dengan sistem yang teratur, Koperasi Merah Putih mampu mempercepat penyusunan laporan periodik dan membangun sistem manajemen yang lebih mudah diaudit, yang pada gilirannya akan meningkatkan kepercayaan para anggota terhadap pengurus.
Di sisi komersial, koperasi saat ini masih mengandalkan distribusi gas LPG 3 kilogram sebagai unit usaha inti.
Namun, terdapat celah pasar yang signifikan di wilayah Hargobinangun yang merupakan kawasan wisata yakni kebutuhan wilayah mencapai 140 tabung per minggu, sementara kuota yang dimiliki koperasi saat ini baru menyentuh angka 60 tabung per minggu.
Rencana Diversifikasi Usaha
Tantangan operasional kian nyata karena koperasi harus menanggung beban transportasi dan biaya logistik di tengah margin harga yang telah dipatok sesuai regulasi rantai distribusi.
Kondisi itu memaksa koperasi menerapkan skema distribusi terbatas bagi rumah tangga guna menjaga pemerataan pasokan di tengah keterbatasan kuota yang tersedia.
Menyikapi keterbatasan, koperasi mulai mengkaji diversifikasi usaha dengan prinsip kehati-hatian. Rencana pengembangan mencakup pembukaan unit simpan pinjam, kolaborasi layanan kesehatan dengan praktik dokter mandiri, hingga penjajakan kemitraan jangka panjang dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk memperkuat ekosistem ekonomi lokal.
Khalifany menegaskan UMY berkomitmen pendampingan akan terus berlanjut hingga tercipta kemandirian ekonomi desa.
Sinergi antara akademisi, pemerintah desa, dan Dinas Koperasi UKM Kabupaten Sleman menjadi kunci agar Koperasi Merah Putih tidak hanya bertahan secara administratif, tetapi juga tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan di lereng Gunung Merapi.





