Bagaimana Membuat Tulisan Ekonomi? Ini Tips dari Ekonom UAJY

oleh -507 Dilihat
DISKUSI EKONOMI: Para narasumber dalam ''Ngobrol Santai Bareng Media'' gelaran Bank Indonesia DIY.(Foto:istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Tulisan ekonomi sedikit berbeda dengan tulisan lainnya apalagi yang kemudian terbit di media massa. Pasalnya, isu ekonomi sangat sensitif sehingga perlu data yang lengkap serta narasumber yang kompeten.

Hal itu terungkap pada ”Ngobrol Santai Bareng Media” di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, Rabu (12/11/2025). Agenda tersebut merupakan gelaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY.

Hadir sebagai narasumber Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo dan Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Y Sri Susilo. Sebanyak 30 jurnalis mengikuti dialog dari awal hingga selesai.

”Jurnalis wajib membuat dengan baik dan benar, sesuai fakta dan data,” tegas Susilo yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.

Ia menjelaskan, baik dalam arti mencakup penentuan sudut pandang yang menarik, riset mendalam, dan penyajian informasi secara akurat, objektif, dan relevan.

Juga menggunakan struktur piramida terbalik dengan informasi terpenting di awal, bahasa sederhana. Benar dalam arti laporan ada dukungan data valid.

”Jangan lupa cantumkan sumber terpercaya, serta hindari jargon teknis yang rumit atau bias,” ujar Susilo memberi masukan.

Tulisan Menarik

Dalam kesempatan tersebut, Susilo menegaskan bahwa laporan berita ekonomi dan bisnis yang menarik jika menyajikan data informatif, mengutip data sekunder, sumber primer. Misalnya data inflasi mengacu dari sumber BPS, untuk data Jumlah Uang Beredar (JUB) bersumber dari BI.

Apabila ada keraguan pada data atau informasi wajib melakukan konfirmasi ke sumber primer khususnya lembaga yang menerbitkan data.

JURNALIS: Jurnalis berbagai media massa bersama narasumber ”Ngobrol Santai Bareng Media”.(Foto: istimewa)

Penyajian dalam laporan, sebaiknya dibandingkan secara cross section (misalnya antarsektor atau daerah) dan time series atau dibandingkan dari waktu ke waktu, misalnya bulanan, triwulanan atau tahunan.

”Pada saat mengutip data dari lembaga resmi, wajib melihat definisi operasional dari data tersebut,” jelas Susilo.

Hal itu karena perbedaan definisi menjadikan data berbeda. Sebagai contoh, data ekspor menurut BPS dan BI tentu berbeda. Definisi ekspor BPS dengan basis perhitungan free on board (fob), sedangkan definisi ekspor BI dengan basis perhitungan cost insurance and freight (cif).

Mudah Dipahami

Menurut Susilo, jurnalis sangat penting khususnya menyampaikan menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pembaca, penonton dan pendengar media cetak, online dan elekronik.

”Jurnalis yang baik adalah mereka yang mampu melaporkan data menjadi informasi yang menarik dan mudah dipahami,” tandasnya.

Pada sesi tanya jawab, sebagian besar bertanya terkait prospek pertumbuhan ekonomi nasional dan DIY tahun 2026. Pertanyaan tersebut diajukan ke Sri Darmadi Sudibyo dan Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto. Pada intinya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diperkirakan masih tumbuh sedikit di atas lima persen.

Demikian pula untuk perekonomian DIY, namun pertumbuhannya akan lebih tinggi dari perekonomian nasional. Terkait dengan isu redominasi rupiah, menurut Susilo kebijakan tersebut bertujuan efisiensi dalam menyusun laporan keuangan. Redominasi tidak akan merubah nilai rupiah nominal dan rill.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.