Bagaimana Strategi Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi?

oleh -2041 Dilihat
KEUANGAN DIGITAL: Anak-anak muda dapat melakukan pengelolaan keuangan melalui perbankan digital.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Ekonomi nasional maupun global memperlihatkan dinamikanya. Ada banyak tantangan akibat pergerakan tersebut, termasuk turunnya kelas menengah yang terus terjadi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan drastis jumlah kelas menengah sejak pandemi, dari 21,54 persen pada 2019 menjadi 17,44 persen pada 2024. Penurunan mencerminkan tren yang mengkhawatirkan.

”Makin banyak generasi muda yang turun kelas ke kelompok aspiring middle class, yaitu mereka yang berada antara kelas bawah dan menengah. Kondisi ini ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi, mengingat bahwa kelas menengah menjadi motor utama konsumsi domestik,” papar Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk, Anton Hermawan, Rabu (18/9/2024).

Menurutnya, selain efek domino dari pandemi dan tekanan ekonomi, penurunan kelas menengah juga karena perubahan prioritas pengeluaran kelas menengah.

Kebutuhan Menurun

Laporan Ekonomi dan Keuangan Mingguan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu menunjukkan pengeluaran kelas menengah untuk kebutuhan produktif relatif menurun. Sebaliknya terjadi peningkatan untuk kebutuhan tersier seperti hiburan, barang mewah, hingga keperluan pesta.

Akibatnya, ruang untuk menabung semakin terbatas. Dalam situasi ini, generasi muda perlu mengadopsi strategi keuangan yang lebih cerdas dan proaktif.

”Peran bank digital pun dapat dioptimalkan sebagai solusi inovatif agar generasi muda lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi,” tandas Anton.

Atur Anggaran

Menghadapi ketidakpastian ekonomi, berikut saran Krom Bank Indonesia. Pertama atur pengeluaran, budgeting jadi senjata utama hadapi tekanan ekonomi. Gunakan metode seperti 50/30/20, membagi pendapatan menjadi 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk tabungan dan utang, dan 20 persen untuk hobi/hiburan.

DOMPET DIGITAL: Saat ini keuangan digital sangat membantu anak-anak muda yang tak perlu lagi membawa dompet fisik.(Foto: Priyo Wicaksono)

Kedua, tetapkan jumlah tabungan di awal bulan, di tengah pendapatan yang stagnan. Ini mengurangi risiko pemborosan dan membantu membangun cadangan keuangan yang dapat digunakan untuk menghadapi situasi darurat atau peluang investasi.

Ketiga, siapkan dana darurat sejak dini. Dana darurat sangat penting untuk menghadapi situasi tak terduga seperti pandemi, PHK, serta menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi.

”Besaran dana darurat yang ideal adalah 3-12 kali gaji bulanan. Dengan memiliki dana darurat yang cukup, kita dapat mengurangi stres finansial dan tetap bertahan dalam krisis tanpa mengganggu tabungan,” tandas Anton.

Keempar, pilih instrumen investasi yang konservatif di tengah ketidakpastian ekonomi. PIlihan investasi deposito yang memiliki bunga kompetitif menjadi langkah tepat di kondisi penuh ketidakpastian. Seperti di Krom Bank misalnya, yang menawarkan bunga deposito hingga 8,75 persen sehingga memungkinkan generasi muda meraih return maksimal dengan risiko minimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.