JOGJA, bisnisjogja.id – Belanja lingkungan yang dilakukan pemerintah daerah terbukti berkontribusi dalam memperlambat pertumbuhan polusi udara, khususnya yang berasal dari aktivitas pembakaran bahan bakar dan sektor transportasi.
Temuan tersebut diungkap Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Data Avicenna, yang terlibat dalam penulisan buku internasional Accelerating Climate Action in Asia and the Pacific: Fiscal Policy Solutions.
Penelitian dalam buku tersebut menelaah pengaruh belanja lingkungan pemerintah daerah terhadap upaya pengurangan pencemaran udara di Indonesia dengan memanfaatkan data satelit sebagai alat ukur kualitas udara.
Studi menggunakan data longitudinal dari 474 kabupaten/kota selama periode 2012–2019. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara peningkatan belanja lingkungan dan laju pertumbuhan polusi nitrogen dioksida (NO₂).
Polusi Bahan Bakar
Menurut Data Avicenna, dampak tersebut terutama terlihat pada polusi yang berasal dari aktivitas pembakaran bahan bakar, termasuk dari sektor transportasi yang menjadi salah satu sumber utama emisi di daerah perkotaan.
”Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara peningkatan belanja lingkungan daerah dan perlambatan pertumbuhan polusi NO₂ yang umumnya berkaitan dengan aktivitas pembakaran bahan bakar,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Meski demikian, penelitian tidak menemukan hubungan signifikan antara belanja lingkungan dan penurunan polusi sulfur dioksida (SO₂). Kondisi ini mengindikasikan efektivitas belanja lingkungan berbeda-beda tergantung jenis polutan yang dihadapi.
Pemanfaatan Teknologi
Data Avicenna menjelaskan bahwa belanja lingkungan daerah cenderung lebih efektif menekan pertumbuhan polusi yang berasal dari sektor transportasi, sementara dampaknya terhadap pencemaran dari aktivitas industri belum terlihat signifikan.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi satelit dalam evaluasi kebijakan publik, terutama bagi negara berkembang yang masih memiliki keterbatasan jaringan pemantauan kualitas udara berbasis darat.
Partisipasi akademisi UGM dalam publikasi yang diterbitkan oleh Asian Development Bank Institute (ADBI) dan SOAS University of London tersebut diharapkan dapat memperkuat perumusan kebijakan lingkungan yang lebih efektif sekaligus mendukung target emisi nol bersih Indonesia.





