JOGJA, bisnisjogja.id – Terdapat 2,17 juta orang yang bekerja di DIY dan 42,21 persennya bekerja sebagai buruh, karyawan, pegawai dan sekitar 18,37 persen yang berusaha sendiri. Dengan begitu, lebih dari satu juta tenaga kerja yang memiliki potensi terganggu aktivitas pekerjaannya akibat ketidakpastian dan perlambatan ekonomi.
Tim Ahli Komite Ketangguhan Ekonomi Jogjakarta (Jogjakarta Economic Resilience Committee – JERC), Amirullah Setya Hardi PhD mengungkapkan hal itu. Ia menyampaikan kondisi terkini perekonomian DIY akibat ketidakpastian global.
”Tidak hanya sektor sekunder, sektor tersier perlu mendapat perhatian agar kinerjanya tetap dapat dipertahankan. Perdagangan, pendidikan dan pariwisata menjadi pilar penting dalam menopang perekonomian DIY di bidang jasa,” papar Amirullah.
Sumbangan sektor perdagangan dan jasa pendidikan relatif cukup besar pada kisaran delapan persen. Sementara kegiatan pariwisata melalui sektor akomodasi dan makanan minuman juga memberikan kontribusi cukup signifikan bagi DIY yaitu sebesar 10,65 persen pada kuartal I 2025.
Adanya dinamika internal di dalam negeri akibat kebijakan pemerintah daerah yang mempengaruhi kinerja pariwisata juga terasa. Terlihat pada menurunnya jumlah wisatawan dan tingkat penghunian kamar hotel sebesar 2,89 persen pada Maret 2025 dibanding Maret 2024.
Penurunan Penyerapan
Hal tersebut berdampak pada kemampuan sektor akomodasi dan makanan minuman dalam menyerap tenaga kerja. Data BPS DIY pada Februari 2025 terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor ini sebesar 0,92 persen dari Februari 2024. Artinya telah terjadi pengurangan tenaga kerja pada sektor itu.
”Sektor ekonomi kreatif di DIY, yang mencakup pariwisata, jasa konstruksi, dan revitalisasi vokasi, menunjukkan dinamika positif dengan memanfaatkan kekayaan budaya, kreativitas sumber daya manusia, dan inovasi teknologi,” jelas Amirullah.
Pariwisata merupakan tulang punggung ekraf, didorong oleh destinasi seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Yogyakarta, dan Malioboro.
Secara nasional, sektor pariwisata menyumbang 4,01–4,5 persen terhadap PDB pada 2024, dengan target meningkat menjadi 4,6 persen pada 2025. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) nasional mencapai 11,09 juta pada November 2024, naik 7,27 persen dari tahun sebelumnya, dengan target 14,6–16 juta pada 2025.
Tren Positif
Pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,08 miliar perjalanan pada 2024, dengan target serupa untuk 2025. Di DIY, pariwisata menyumbang 70 persen pendapatan daerah pada 2024, dengan kunjungan wisman ke destinasi utama seperti Borobudur mencapai 250.000 orang dan wisnus sekitar delapan juta perjalanan.
Pariwisata di DIY juga mendukung subsektor ekraf seperti kuliner, kerajinan, dan seni pertunjukan. Kawasan Prioritas Pariwisata (KSP) seperti Parangtritis dan Kasongan-Tembi, sebagaimana ditetapkan dalam SK Gubernur DIY Nomor 193 Tahun 2017, menjadi pusat pengembangan pariwisata berbasis ekraf.
Kasongan menghasilkan 60 persen produk keramik DIY, dengan nilai ekspor Rp 50 miliar pada 2024. Namun, tantangan seperti kurangnya infrastruktur digital dan kolaborasi antar-stakeholder masih menghambat potensi maksimal.
Pemulihan setelah pandemi Covid-19 menunjukkan tren positif, dengan kunjungan wisatawan di DIY naik 15 persen pada 2024 dibandingkan 2023.





