- Mental pemain sepak bola sangat mempengaruhi permainan tim.
- Dimensi mental dan faktor luar lapangan terlihat jelas di lapangan.
- Disiplin menjalankan teknik bermain berpengaruh pula pada pemainan.
SEPAK BOLA adalah permainan teknik, skill dan fisik, tapi dimensi mental juga sangat penting. Sebagai permainan tim, faktor mental juga mempengaruhi kerjasama seluruh pemain di lapangan. Fakfor luar lapangan juga berpengaruh pada ritme perkembangan atau dinamika dimensi mental pemain dan mental keseluruhan tim.
Teori-teori di balik dimensi mental dalam sepakbola telah banyak dibahas, diskusinya panjang, alur penjelasannya bermacam-macam dan determinan atau pemicunya pun sangat banyak.
Pada babak pertama, mental pemain Prancis dan Maroko sama-sama stabil. Prancis memang jauh lebih unggul dalam menyerang, lebih rapi, sistematis dan terencana baik. Proses build up dimulai dari penjaga gawang Mike Maignan, terus ke William Saliba (Arsenal) atau Dayot Upamecano (Bayern), atau terkadang ke Jules Kounde (Barcelona) ke Lucas Digne (Aston Villa).
Tiba-tiba saja bola sudah dipegang Adrien Rabiot (AC Milan), lalu ke kombinasi Michael Olise (Bayern), Kylian Mbappe (Real Madrid) atau Ousman Dembele (PSG). Bola mengalir ke depan cepat sekali, sehingga permainan menjadi sangat menarik.
Sangat Disiplin
Sementara Maroko bertahan sangat disiplin, menerapkan strategi low-block, pertahanan berlapis dengan 5-4-1, tapi lini tengah cukup solid. Transisi permainan Maroko juga sangat cepat, dengan motor penggerak Issa Diop (Fulham), Chadi Riad (Crystal Palace), Nossair Mazraoui (Manchester United) dan tentu saja Achraf Hakimi (PSG).
Aroub Bouaddi (Lille) ditarik agak ke belakang menjadi gelandang bertahan, bahu-membahu dengan Anass Salah-Eddine (AS Roma). Lapangan tengah Maroko juga cukup tangguh, mempersulit para pemain Prancis. Walaupun Ismael Saibari (PSV) sedang cidera, peran penyerang tengah dipercaua pada Bilal El Khannouss (VfB Stuutgart).
Kombinasi counter-attack cepat dimotori oleh si lincah Brahim Diaz (Real Madrid), Azzedine Ounahi (Girona) dan Chemsdine Talbi (Sunderland). Kedua tim sedikit membuat kesalahan, sehingga babak pertama tidak terjadi gol. Tendangan penalti Kylian Mbappe berhasil ditepis kiper Yassin Bono.
Pada babak kedua, kedua tim sama-sama masuk lapangan dengan rasa optimisme tinggi. Strategi permainan tidak banyak berubah, Prancis berinisiatif menyerang dan Maroko bertahan dengan rapi. Setelah 10 menit pertama, barisan depan Prancis sudah mulai lebih tajam menyerang dan melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.
Brahim Diaz dan kawan-kawan juga mulai masuk ke kotak penalti Prancis, tapi tidak terlalu percaya diri untuk melepaskan tembakan jarak jauh. Sangat mungkin, ada kekhawatiran akan kehilangan bola percuma, sehingga penguasan bola Maloko sering tidak sempurna. Bagusnya, begitu kehilangan bola, pemain Maroko langsung turun ke belakang, tanpa berusaha melakukan pressures di daerah Prancis, sehingga bola cepat sekali mengalir ke daerah pertahanan Maroko.
Gebrakan Penyerangan
Pada suatu gebrakan penyerangan, Michael Olise mengirim umpan ke Kylian Mbappe, yang mengeksekusi dengan tendangan melengkung ke sisi kiri gawang Yassin Bono dan menjadi gol pada menit 60. Di sini terlihat, mental para pemain Maroko nampak terpukul dengan gol Mbappe dan pertahanan menjadi tidak terlalu rapi lagi.
Tidak lama kemudian, dengan proses yang hampir mirip gol pertama, serangan Prancis yang sebenarnya tidak terlalu terstruktur rapi, Ousman Dembele menggiring bola mendekati kotak penalti. Tidak ada pemain Maroko yang berusaha mengganggu Dembele atau mencoba memblok tendangannya. Dembele cukup leluasa menciptakan gol kedua pada menit 66 melalui tendangan keras, juga ke arah kiri kiper Bono. Skor 2-0 bertahan hingga akhir pertandingan.
Dimensi mental dan faktor luar lapangan terlihat jelas pada pertandingan Argentina vs Mesir. Pola permainan mirip dengan pertandingan Prancis vs Maroko, Argentin a banyak inisiatif menyerang, sementara Mesir bertahan rapat, low-block, disiplin rapi, penjagaan orang dan penjagaan lini cukup baik, serangan balik cepat, disertai bola vertikal yang cukup sering, plus pemanfaatan pola mati melalui set piece.
Dalam suatu serangan balik, Yasser Ibrahim mampu mencetak gol pada menit 15, 1-0 untuk Mesir. Argentina mencoba balas, tapi tendangan Linoel Messi, Lautaro Martinez (Inter Milan) dan Christian Romero (Tottenham Hotspur) selalu gagal. Panampilan kiper Mustofa Shoubir sangat gemilang pada babak pertama, bahkan berhasil menepis tendangan penalti Messi.
Mental Berubah
Pada babak kedua, Argentina semakin bernafsu untuk mencetak gol, tapi selalu kandas. Bahkan, pada menit 58, dalam suatu serangan balik cepat, Mostafa Ziko mencetak gol cukup indah. Dia melalukan selebrasi sangat bahagia, sambil membuka bajunya, berlari ke pinggir lapangan. Tapi, tiba-tiba wasit terlihat melakukan pembicaraan dengan control-room, hingga lupa tidak memberikan kartu kuning kepada Ziko.
Gol dibatalkan, karena terdapat pelanggaran oleh pemain Mesir terhadap Lisandro Martinez di lokasi yang cukup jauh dari terciptanya gol. Mental pemain Mesir mulai terganggu, konsentrasi setengah buyar. Beberapa saat kemudian, tepatnya menit 67, Mostafa Ziko mencetak gol lagi, melalui umpan tarik terukur sangat matang dari Mohammad Salah. Mesir menang 2-0.
Sejak unggul 2-0 ini, dimensi mental pemain Mesir terlihat berubah drastis, tidak serileks seperti sebelumnya, tetapi terkesan mulai tertekan. Keunggulan mental pemain Mesir selama 70 menit seakan hilang cukup drastis. Dari awalnya low-block dan high pressures tiba-tiba berubah menjadi serba tanggung, karena seakan takut kalah, hingga bahkan tidak mampu menguasai bola.
Mesir berubah menjadi sangat tertekan, tapi tidak ada mitigasi strategi yang dipersiapkan, misal men-delay permainan, buang-buang waktu, pura-pura sakit dan lainnya, tanpa harus mengubah drastis strategi permainan (dan mitigasinya) yang telah dipersiapkan dan dismulasikan melalui Latihan berjam-jam dan berhari-hari.
Lakukan Pelanggaran
Sebaliknya, pemain Mesir justru terlihat sering melakukan pelanggaran, hingga diganjar banyak kartu kuning, total 4 kartu kuning. Pada saat yang sama, faktor luar lapangan juga mulai mengganggu pemain Mesir, terutama peran wasit Francois Letexier (Prancis) dan tim atau pasukan di control room dan VAR.
Tidak hanya pada saat pelanggaran terhadap Mohammad Salah di dalam kotak penalti, tetapi perlakuan kasar terhadap pemain Mesir yang tidak mendapat teguran apa-apa. Hingga akhir pertandingan, tidak satu pun pemain Argentina menerima kartu kuning.
Argentina mendapatkan perubahan momentum yang berbalik 180 derajat, dari sebelumnya menyerang terbaru-buru, menjadi lebih sabar dan terstruktur. Argentina baru memperoleh gol pada menit 79 melalui sundulan Christian Romero. Mesir terlihat semakin lelah secara mental, permainan tidak terlalu fokus lagi, tapi semakin tertekan.
Empat menit kemudian, tepatnya pada menit 84, Lionel Messi mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menkadi 2-2 melalui suatu tendangan keras terukur ke gawang. Perubahan mental seperti ini yang ikut mempengaruhi endurance pemain Mesir dalam melanjutkan pertandingan.
Di tengah skor 2-2 dan kegalauan mental seperti itu, atau para pemain Mesir expect pertandingan akan segera berakhir dan menyiapkan mental untuk perpanjangan waktu dan adu penalti, tiba Lisandro Martinez mengirimkan umping silang ke tengah, disambut sundulan kepala Enzo Fernandez (Chelsea) dan mencetak gol kemenangan 3-2 untuk Argentina.
- Penulis, Prof Bustanul Arifin, Penikmat Sepak Bola dan Kuliner.







