Diplomasi Tarif di Era Trump: Ujian Awal Strategi Ekonomi Indonesia

oleh -342 Dilihat
Ekonom Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi.(Foto: istimewa)

KEBIJAKAN tarif sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang tatanan perdagangan global. Di tengah ketegangan tersebut, Indonesia mengambil langkah sigap dengan mengirimkan delegasi ekonomi tingkat tinggi ke Washington DC pada 16–23 April 2025.

Tujuannya jelas, membuka ruang negosiasi, mencegah eskalasi lebih jauh, dan menyelamatkan stabilitas perdagangan nasional.

Delegasi yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto ini juga diperkuat oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Wakil Menkeu Thomas Djiwandono, Ketua OJK Mahendra Siregar, dan tokoh senior Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu.

Dalam konferensi pers yang dikutip Bloomberg Technoz (14/4/2025), Airlangga menjelaskan, delegasi akan bertemu dengan USTR, Sekretaris Komersial, Menteri Sekretaris State dan juga Sekretaris Perdagangan.

Langkah tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam merespons tekanan yang, jika tak diantisipasi, bisa berdampak pada kinerja ekspor, lapangan kerja, serta posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.

Pemerintah juga telah menyiapkan dokumen nonpaper yang komprehensif, mencakup isu tarif, hambatan nontarif, investasi, hingga kerja sama ekonomi lintas sektor. Ini bukan sekadar upaya teknis, tapi strategi diplomasi ekonomi menyeluruh.

Pelonggaran Terbatas

Meski demikian, kita perlu memahami berbagai kemungkinan hasil. Skenario yang paling mungkin adalah penangguhan atau pelonggaran terbatas tarif oleh AS terhadap beberapa produk ekspor Indonesia.

Ini bisa dianggap sebagai kemenangan simbolik yang menyelamatkan muka kedua pihak. Namun, kita juga harus bersiap jika negosiasi tidak menghasilkan konsesi apapun.

Trump telah membuktikan bahwa ia siap menggunakan tarif sebagai alat tekan politik, dan tak segan menarget negara-negara yang dianggap lemah posisi tawarnya.

Skenario ketiga, yang ideal namun sulit tercapai, adalah kesepakatan strategis yang lebih luas mencakup investasi, kerja sama energi, bahkan aliansi teknologi atau pertahanan.

Tapi untuk itu, Indonesia harus bisa menawarkan kepentingan bersama yang konkret dan jangka panjang. Dalam konteks ini, posisi Indonesia di Indo-Pasifik dan peluang pembangunan ekonomi hijau bisa menjadi kartu diplomatik yang patut dimainkan.

Lebih dari sekadar perundingan dagang, misi ke Washington adalah ujian awal bagi strategi ekonomi luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.

Arahan langsung Presiden untuk menyurati tiga kementerian ekonomi menunjukkan bahwa negosiasi ini bukan urusan teknokrat semata, tapi kepentingan negara secara utuh.

Apapun hasilnya, dunia kini menyaksikan bahwa sistem perdagangan berbasis aturan telah tergeser oleh kebijakan koersif berbasis kekuatan.

Dalam situasi ini, Indonesia tidak boleh pasif. Ia harus berani menjadi pemain strategis yang tidak hanya merespons krisis, tapi mempersiapkan diri dengan skenario jangka panjang, mendiversifikasi pasar ekspor, memperkuat daya saing domestik, dan membangun ekosistem industri yang tahan guncangan global.

  • Penulis, Prof Syafruddin Karimi, Departemen Ekonomi, Universitas Andalas Sumatra Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.