- Bank Indonsia perlu menjaga jarak institusional dari agenda politik melalui komunikasi satu suara, konsistensi kerangka kebijakan, dan transparansi proses pengambilan keputusan.
- Rupiah akan pulih ketika kebijakan menurunkan premi risiko, menata arus valas korporasi, dan menguatkan mesin kredit.
RUPIAH tidak melemah karena satu angka kurs. Rupiah melemah karena pasar mengukur kualitas kebijakan. Ketika USD/IDR sempat menyentuh Rp 16.985 lalu bergerak lagi ke kisaran Rp 16.900an, pasar menilai premi risiko Indonesia naik dan baru mereda saat otoritas mengirim sinyal disiplin kebijakan. Kurs menjadi papan skor dari kredibilitas, arus modal, dan kebutuhan dolar sektor riil.
Persepsi independensi bank sentral ikut menaikkan premi risiko. Isu pencalonan figur yang berelasi keluarga dengan presiden untuk posisi deputi gubernur BI memicu debat publik, dan investor bereaksi pada persepsi sebelum proses politik selesai.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun dari sekitar 6,1 persen ke sekitar 6,3 persen menunjukkan investor meminta kompensasi risiko lebih tinggi pada aset rupiah. Bank Indonsia perlu menjaga jarak institusional dari agenda politik melalui komunikasi satu suara, konsistensi kerangka kebijakan, dan transparansi proses pengambilan keputusan.
Pemerintah perlu memastikan proses nominasi berjalan terang, uji kelayakan DPR ketat, dan standar profesionalisme menjadi pagar reputasi.
Permintaan Valas Korporasi Besar
Tekanan kurs juga muncul dari permintaan valas korporasi besar. Perry Warjiyo menyorot kebutuhan dolar dari Pertamina, PLN, dan Danantara sebagai faktor domestik penting. Pembelian valas berukuran besar dapat mengguncang pasar spot, DNDF, dan NDF ketika likuiditas menipis.
Pemerintah perlu memimpin manajemen valas BUMN secara terkoordinasi: susun kalender pembelian valas, wajibkan lindung nilai berbasis arus kas, dan sebarkan eksekusi transaksi agar pasar tidak tersentak.
Pemerintah juga perlu mempercepat efisiensi impor energi dan memperkuat kepatuhan retensi devisa ekspor supaya pasokan dolar lebih merata sepanjang bulan.
Fiskal tetap menjadi jangkar kedua setelah BI. Defisit 2025 sebesar 2,92 persen PDB masih di bawah batas hukum 3 persen, tetapi posisi dekat pagar itu meningkatkan sensitivitas investor pada rumor pelebaran defisit dan perubahan arah belanja.
Investor akan menekan harga obligasi ketika mereka melihat belanja besar tanpa peta pendanaan yang kredibel. Pemerintah perlu menurunkan premi risiko melalui disiplin belanja, prioritas program yang terukur, reformasi penerimaan yang nyata, dan manajemen utang yang rapi, terutama pada tenor panjang yang paling sensitif pada sentimen.
Risiko Negara Berkembang
Risiko global memperkeras gelombang. Ancaman tarif dan manuver geopolitik AS meningkatkan volatilitas lintas aset, memicu aksi jual yang meluas, dan menghidupkan kembali narasi ”Sell America” di sebagian pelaku pasar (Ahmed & Krauskopf, 2026).
Dalam suasana seperti itu, pelemahan dolar indeks tidak otomatis menguatkan rupiah. Investor memisahkan dolar sebagai mata uang dari risiko negara berkembang. Rupiah bergerak mengikuti premi risiko domestik dan term premium obligasi, bukan sekadar mengikuti DXY. Indonesia perlu menang lewat kualitas kebijakan sendiri, bukan berharap pada arah angin global.
Bank Indonesia perlu memaksimalkan bauran kebijakan yang konsisten, menahan 7DRR di 4,75 persen dan menegaskan kesiapan intervensi untuk meredam volatilitas, termasuk lewat instrumen pasar valas (Suroyo & Sulaiman, 2026).
Sikap tersebut dapat menahan spekulasi satu arah, terutama saat pasar menilai ulang risiko portofolio. Intervensi harus menstabilkan volatilitas, bukan mengunci level kurs yang melawan fundamental, karena pasar selalu menguji ketahanan cadangan dan disiplin komunikasi.
Menjaga Kredibilitas dan Ketegasan
Pada sisi domestik, stabilisasi kurs perlu berjalan beriringan dengan perbaikan transmisi ke sektor riil. Kredit perbankan sepanjang 2025 tumbuh sekitar 9 persen, kredit UMKM pada November terkontraksi, porsi special rate sekitar 27 persen dari DPK menahan penurunan bunga kredit, dan undisbursed loan tetap besar.
Situasi ini menahan produksi, mengurangi kapasitas substitusi impor, dan pada akhirnya memperpanjang kebutuhan dolar. Bank Indonesia dan pemerintah perlu mendorong intermediasi lewat insentif makroprudensial yang menarget UMKM, penguatan penjaminan kredit, serta pendalaman pasar uang agar biaya dana turun lebih cepat dan investasi produktif bergerak.
Rupiah akan pulih ketika kebijakan menurunkan premi risiko, menata arus valas korporasi, dan menguatkan mesin kredit. Bank Indonesia perlu menjaga kredibilitas dan ketegasan operasional. Pemerintah perlu mengunci disiplin fiskal serta tata kelola yang bersih. Pasar menghargai konsistensi, dan rupiah akan mengikuti ketika konsistensi itu menjadi praktik harian.
- Penulis, Prof Syafruddin Karimi, Departemen Ekonomi Universitas Andalas Padang.





