Dua Kampus Top Rumuskan Solusi Krisis Pangan

oleh -18 Dilihat
DISKUSI: Jajaran UGM dan NUS pada pembukaan acara.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM dan National University of Singapore (NUS) resmi bersinergi dalam program eksposur internasional Southeast Asia Friendship Initiative. Kolaborasi strategis untuk bertukar gagasan dan pengetahuan guna merespons tantangan kesejahteraan serta ketahanan pangan di kawasan Asia Tenggara.

Program yang diinisiasi oleh NUS King Edward VII Hall ini berlangsung pada 21–22 Mei 2026 di FTP UGM. Sebanyak 44 mahasiswa beserta jajaran dosen dari kedua universitas top tersebut terlibat aktif dalam serangkaian kegiatan akademik dan pertukaran budaya yang berfokus pada isu krusial global.

Mengusung tema Zero Hunger (Tanpa Kelaparan), kegiatan menghadirkan sesi pemaparan materi serta aktivitas pendukung yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi antarpeserta. Dekan FTP UGM, Prof Eni Harmayani, menyatakan program tersebut menjadi wadah penting dalam memperluas wawasan global mahasiswa.

Tantangan Sangat Kompleks

Menurut Eni tema ketahanan pangan sangat relevan mengingat Asia Tenggara saat ini tengah menghadapi dinamika ekonomi dan tantangan kompleks. Mulai dari perubahan iklim, pertanian berkelanjutan, transformasi digital, hingga kesehatan masyarakat dan korporasi yang saling memengaruhi stabilitas kawasan.

Ia menegaskan krisis pangan dan lingkungan tidak dapat diselesaikan secara sepihak oleh satu negara. Dibutuhkan solidaritas regional, kolaborasi interdisipliner, serta kontribusi nyata dari universitas sebagai pusat riset dan inovasi untuk menciptakan solusi yang berdampak luas.

RAMPUNG: Narasumber dan peserta usai acara yang berlangsung selama dua hari.(Foto: dok UGM)

Melalui program ini, UGM berkomitmen mencetak generasi muda yang unggul di bidang penelitian dan mampu bersaing di tingkat global. Sinergi dapat melahirkan para pemimpin masa depan yang berkontribusi pada pembangunan Asia Tenggara yang lebih resilien, inklusif, dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia berharap Southeast Asia Friendship Initiative mampu menjadi jembatan jangka panjang yang menghubungkan ide, budaya, dan generasi penerus di kawasan ASEAN demi menghadapi tantangan ekonomi global ke depan.

Pembangunan Berkelanjutan

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Hubungan Internasional UGM, Tyas Ikhsan Hikmawan, menilai isu Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Zero Hunger, merupakan prioritas penting bagi kepentingan nasional maupun pengembangan universitas.

Tyas menekankan, tantangan pembangunan berkelanjutan memerlukan keterlibatan multisektoral lintas negara. Melalui inisiatif ini, para mahasiswa diharapkan membangun tanggung jawab bersama dalam merumuskan solusi global yang didasari oleh semangat persahabatan internasional.

Sementara itu, perwakilan NUS, Giuseppe Timperio, menjelaskan program yang dimulai sejak 2023 tersebut dirancang untuk menanamkan kesadaran keberlanjutan bagi calon pemimpin masa depan. NUS menempatkan UGM sebagai mitra strategis karena memiliki kesamaan visi dan kepedulian yang tinggi terhadap isu kesejahteraan pangan masyarakat.

No More Posts Available.

No more pages to load.