Indonesia Tidak Terlalu Terpuruk tapi Lambat Pulih

oleh -662 Dilihat
SEMINAR NASIONAL: Moderator dan narasumber dalam seminar nasional FBE UAJY.(Foto: Y Sri Susilo)

 

  • ”Indonesia setidaknya menghadapi tiga tantangan, yaitu ancaman ideologi-ideologi dari transnasional-ekstrimis-agamis, kesejahteraan umum gagal tercapai, dan pembusukan demokrasi,” ungkap Franz Magnis Suseno SJ.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – ”Ekonomi Indonesia cukup stabil, dilihat saat krisis. Indonesia tidak terlalu terpuruk, sayang pulihnya lambat,” ungkap Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Yustinus Prastowo MA MPhil.

Ia menyampaikan itu ketika menjadi narasumber seminar nasional Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Seminar bertajuk ”Menavigasi Perubahan: Bisnis-Ekonomi Berkelanjutan menuju Indonesia Maju” di Auditorium Kampus 3 UAJY, Babarsari, Yogyakarta, Selasa (16/09/2025).

Seminar menghadirkan pembicara Rama Prof Franz Magnis Suseno SJ (Guru Besar STF Driyarkara), Prof Aloysius Gunadi Brata (Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY). Selaku moderator Mahestu N Krisjanti PhD (Dekan FBE UAJY).

Kegiatan ini merupakan rangkaian Dies Natalis ke-60 UAJY. Hadir sebanyak 150 peserta yang mewakili akademisi (PTN/PTS), pengusaha dan perbankan, pemerintah daerah, LSM, guru dan mahasiswa. Hadir juga ketiga jajaran kampus, rektorat maupun fakultas.

Menurut Prastowo, tantangan Indonesia adalah kemiskinan dan ketimpangan yang besar. Rata- rata tabungan di atas Rp 1 miliar dan rata- rata di bawah Rp 100 juta sangatlah timpang.

”Penyebab ketimpangan yakni kemajuan teknologi, globalisasi, dan sistem pajak regresif yang menguntungkan orang kaya,” tegasnya.

Belum Inklusif

Ia menjelaskan negara-negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi adalah negara dengan tingkat ketimpangan rendah. Krisis iklim dan transisi energi juga menjadi permasalahan. Alih- alih mendukung ekonomi hijau, Indonesia masih di level survive.

”Pertumbuhan kita belum inklusif’. Selain itu, tantangan yang mendesak adalah keberlanjutan, ketimpangan di daerah yang harus segera diatasi. Kita juga perlu arah baru yakni kolaborasi dan reformasi,” tandas Prastowo.

RATUSAN PESERTA: Peserta seminar lebih dari seratus orang memenuhi Auditorium Kampus 3 UAJY, Babarsari, Yogyakarta.(Foto: Y Sri Susilo)

Narasumber lain, Magnis Suseno mengatakan tantangan terbesar adalah membawa Indonesia ke masa emas 2045. Menurutnya, Indonesia sudah berhasil menjadi diri sendiri apabila sudah bertanggung jawab.

”Apabila kita lari dari tanggung jawab berarti kita gagal menemukan jati diri sendiri,” ujar Magnis.

Ia melanjutkan, ada lima tantangan besar dunia. Tantangan itu, bertambahnya perang, ancaman kelaparan, ideologi-ideologi ekstrem negara, keambrukan lingkungan hidup alami, dan artificial intelligence (AI).

Indonesia setidaknya menghadapi tiga tantangan, yaitu ancaman ideologi-ideologi dari transnasional-ekstrimis-agamis, kesejahteraan umum gagal tercapai, dan pembusukan demokrasi.

Utang Negara

Aloysius Gunadi Brata memaparkan, global income inequality mengalami kenaikan. Utang juga naik dan Indonesia tumbuh dengan mengorbankan sisi lingkungan yang sangat besar.

Menurut Aloysius, kepedulian kepada lingkungan baru sebatas wacana atau pura-pura peduli belum pada tingkatan aksi atau tindakan nyata.

Ia berharap ada perubahan fondasi ekonomi. Kebijakan dekarbonisasi, dekolonisasi dan diversifikasi perlu menjadi perhatian pengambil kebijakan pemerintah, swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

”Di level pendidikan tinggi, perlu adanya inovasi pengajaran dan penilaian,” harap Guru Besar FBE UAJY tersebut. Kurikulum tidak hanya ditentukan oleh dosen, namun juga dapat terbuka atas usul mahasiswa.

Alumnus Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Nurdianto mengatakan mengenai kepedulian kepada lingkungan dapat dilakukan oleh siapapun.

Ia mengajak berbagai pihak terlibat peduli lingkungan, termasuk petani. Dengan komunikasi yang berlanjut, petani bersedia menggunakan pupuk kompos dengan mengurangi pupuk anorganik. Kondisi ini menjadikan kesadaran terhadap lingkungan meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.