JAKARTA, bisnisjogja.id – Asuransi Jiwa Generali Indonesia membuktikan komitmennya dengan membayarkan lebih dari 273.000 klaim senilai Rp 1,3 triliun selama tahun 2025. Angka tersebut mencakup pembayaran manfaat meninggal dunia, kesehatan, hingga penyakit kritis bagi para nasabah.
Klaim kesehatan mendominasi total pembayaran dengan porsi mencapai 83 persen dari keseluruhan nilai klaim. Segmen ini mencatatkan kenaikan sebesar 8,7 persen secara tahunan (YoY), yang dipicu oleh tren peningkatan biaya medis di pasar.
Sebaliknya, Generali mencatat penurunan tajam pada klaim meninggal dunia sebesar 11,1 persen dan klaim penyakit kritis sebesar 51,7 persen. Penurunan mencerminkan kualitas portofolio perusahaan serta disiplin manajemen risiko dan underwriting yang sangat ketat.
Serahkan Klaim secara Simbolis
Director and Chief Agency Officer Generali Indonesia, Jutany Japit, secara simbolis menyerahkan klaim kepada Bapak Bintoro, nasabah dengan diagnosa penyakit hati kronis. Nasabah tersebut menerima total perlindungan asuransi senilai lebih dari Rp 5,8 miliar untuk tindakan transplantasi hati.
Jutany menegaskan, setiap pembayaran klaim merupakan wujud nyata visi perusahaan sebagai lifetime partner bagi nasabah. Ia mengingatkan masyarakat bahwa proteksi asuransi kini menjadi kebutuhan pokok di tengah ancaman inflasi medis yang terus membumbung tinggi.
Riset Mercer Marsh Benefits (MMB) memproyeksikan tren biaya medis di Indonesia melonjak hingga 17,8 persen pada tahun 2026. Angka ini jauh melampaui rata-rata inflasi medis di wilayah Asia yang berada di level 12,5 persen.
Guna mempermudah layanan, Generali memperkuat ekosistem digital melalui aplikasi iPropose dan Gen iClick. Perusahaan juga meluncurkan fitur GEN QuickDischarge yang memungkinkan nasabah rawat inap pulang dari rumah sakit dalam waktu kurang dari 10 menit.
Hingga saat ini, lebih dari 400.000 nasabah individu maupun korporat memercayakan perlindungan jiwa dan kesehatan mereka kepada Generali Indonesia. Dukungan jaringan global Generali Group di 50 negara memperkokoh posisi perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi tahun 2026.





