JOGJA, bisnisjogja.id – Penghapusan pajak bagi penulis dan komponen industri buku menjadi rekomendasi penting dari Diskusi Publik ”Buku Sebagai Dasar Pembangunan Jati Diri Bangsa” yang berlangsung di Ruang Literasi Kaliurang.
Diskusi yang dihadiri para pemangku kepentingan dunia perbukuan mulai dari penulis, editor, penerbit, pemilik toko buku, hingga komunitas sastra juga menekankan penambahan kegiatan membaca dan menulis sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah, serta penyelenggaraan festival membaca di setiap daerah.
Salah satu tokoh penting dalam dunia perbukuan Yogyakarta, Buldanul Khuri menyoroti lemahnya ekosistem industri buku nasional.
”Kalau ingin literasi hidup, hidupkan dulu ekosistemnya, penulisnya, penerbitnya, toko bukunya, dan pembacanya. Tanpa itu, buku hanya jadi simbol yang sunyi di rak-rak toko,” ungkap Buldanul.
Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menjual buku, tetapi menjadikan buku sebagai kebutuhan dasar masyarakat, bukan barang mewah.
Direktur Pengkajian Implementasi BPIP, Dr Irene Camelyn Sinaga menegaskan pentingnya pemerataan distribusi buku. Ia menegaskan distribusi buku bermutu harus menjadi agenda nasional.
Ia mengatakan BPIP berkomitmen memperkuat program literasi kebangsaan sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan dan kehidupan sosial.
Aktif Revisi
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya yang menggagas revisi UU No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, menyambut positif seluruh masukan yang muncul.
”Kita perlu menyadari, rute perbaikan UU ini panjang dan berliku. Tapi kalau semua pihak ikut mendorong, perubahan itu niscaya,” tandas Willy.
Ia mengajak seluruh pelaku industri perbukuan untuk aktif dalam proses revisi undang-undang, agar kebijakan literasi nasional tidak hanya berhenti di wacana, tapi menjadi gerakan kebangsaan yang hidup.
Sementara itu, dalam pidato kuncinya, Halida Nuriah Hatta—putri proklamator yang juga pegiat literasi kebangsaan—menegaskan bahwa buku adalah alat perjuangan yang tak kalah penting dari senjata.
”Buku adalah jendela untuk memahami dunia, cermin untuk merefleksikan identitas, dan pembuka mata hati. Bangsa tanpa literasi adalah bangsa tanpa arah,” tegasnya.
Diskusi juga menghadirkan pembicara utama Okky Madasari PhD yang juga penulis dan pegiat literasi. Ia menepis stigma klasik bahwa masyarakat Indonesia malas membaca.
”Masalah kita bukan minat baca, tapi akses terhadap buku berkualitas yang masih sangat terbatas. Orang ingin membaca, tapi tak punya tempat untuk menemukan buku yang mencerahkan,” ujarnya.
Ia menegaskan perlunya kehadiran negara yang serius membangun infrastruktur literasi dari perpustakaan desa yang hidup hingga kebijakan harga buku yang terjangkau.





