Satu Tahun Komunitas Isyarat, Pelaku Usaha Tuli Gelar Bazar

oleh -10 Dilihat
BAZAR: Panitia kegiatan Komunitas Isyart Sr Prima Tarcicia,FMM mengunjungi salah satu stan milik Nisa pelaku UMKM Tuli di Halaman Kampus UEU, Jakarta Barat.(Foto: istimewa)

JAKARTA, bisnisjogja.id – Pemberdayaan ekonomi inklusif terus merambah sektor pendidikan tinggi guna mendorong kemandirian para pelaku usaha disabilitas. Komunitas Isyart Universitas Esa Unggul (UEU) mengambil langkah nyata dengan menggelar Bazar UMKM khusus bagi pelaku usaha tuli di halaman Kampus UEU, Jakarta Barat.

Kegiatan dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya Komunitas Isyart ini diikuti oleh 14 pelaku UMKM yang mayoritas dikelola oleh penyandang disabilitas tuli. Selain memperluas akses pasar, ajang ini menjadi ruang pembuktian bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berwirausaha secara kompetitif.

Pihak akademisi menilai ruang inklusif seperti ini sangat krusial dalam mencetak wirausahawan baru dari kelompok rentan. Dukungan ekosistem kampus dianggap mampu memberikan modal sosial bagi pelaku UMKM disabilitas sebelum terjun ke pasar yang lebih luas.

Dekan Fakultas Desain dan Industri Kreatif UEU, Indra Gunara, menegaskan komitmen institusi dalam mendukung kesetaraan hak.

“Banyak mahasiswa disabilitas memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang tidak kalah, bahkan mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya. Karena itu, mereka perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi, termasuk melalui kewirausahaan,” ujarnya.

Bersaing Komersial

Indra menambahkan, kualitas produk kuliner hingga industri kreatif yang dihasilkan pelaku UMKM tuli sebenarnya siap bersaing di pasar komersial. Namun, tantangan utama yang sering mereka hadapi adalah akses promosi dan pendampingan bisnis yang berkelanjutan.

Menurutnya, keberlanjutan usaha sangat bergantung pada pembukaan ruang publik yang ramah disabilitas. Semakin banyak ruang yang diberikan kepada pelaku UMKM disabilitas, semakin besar pula peluang mereka berkembang, mandiri, dan memperluas usahanya.

Sentra ekonomi kreatif kali ini menampilkan beragam produk potensial, mulai dari sektor kuliner, minuman, kerajinan, hingga pembukaan kelas bahasa isyarat. Langkah ini terintegrasi langsung dengan Unit Layanan Disabilitas UEU untuk menjamin keberlanjutan program pendampingan.

Kepercayaan Diri

Panitia Kegiatan Komunitas Isyart, Suster Prima Tarcicia FMM, menjelaskan misi utama dari kolaborasi komersial.

“Kami ingin Komunitas Isyart menjadi ruang yang mempertemukan semua orang tanpa sekat. Di sini, teman-teman tuli tidak hanya belajar dan berorganisasi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan karya, membangun kepercayaan diri, dan tumbuh bersama masyarakat,” ungkapnya.

Respons positif pasar terlihat dari antusiasme pengunjung yang bertransaksi langsung dengan para pelaku usaha, salah satunya Nisa, pemilik usaha teh dan pastry. Melalui komunikasi visual dan layar gawai, ia mampu menarik minat konsumen sekaligus memperluas jaringan bisnisnya. Baginya, akses pasar yang setara adalah kunci utama pertumbuhan usahanya ke depan.

“Harapan saya, semakin banyak masyarakat yang mengenal produk kami. Teman-teman tuli juga punya kemampuan untuk berkarya, mandiri, dan bersaing jika diberi kesempatan yang sama,” tandas Nisa optimistis.

No More Posts Available.

No more pages to load.