Ikuti Kisah Sang Pangeran dalam Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro #2

oleh -630 Dilihat
Ketua Panitia JCW #5, R Rahadi Saptata Abra SSi MBA.(Foto: Y Sri Susilo)

JOGJA, bisnisjogja.id – Setelah sukses menggelar ”Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro” pada 1-24 Februari 2019 di Jogja Gallery, kini acara serupa bakal berlangsung kembali.

Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) bersama Jogja Gallery dengan dukungan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dan Fakultas Ilmu Budya UGM akan menyelenggarakan lagi Pameran Sastra Rupa Babad Diponegoro #2 pada 15 Oktober – 03 November 2024 di Jogja Gallery.

Pada pameran 2019, sumber naskah sastra yang menjadi rujukan pada pameran adalah manuskrip Babad Diponegoro yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro menggunakan huruf arab pegon saat dibuang di Manado pada tahun 1830-1832.

Ia kemudian dipindah ke Fort Roterdam Makasar hingga akhir hayatnya. Babad Diponegoro ini mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai ”Memory Of The World” pada tahun 2013.

Karya Seniman

”Hal-hal yang menarik, dapat membangun minat generasi muda, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum untuk belajar sejarah mulai dengan melihat karya-karya lukisan para seniman,” ungkap Ketua Panitia Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro #2, Rahardi Saptata Abra, Selasa (17/9/2029).

Pameran tentu juga menarik bagi para kolektor untuk mengoleksi karya-karya lukisan yang bersejarah. Jumlah pengunjung mencapai 10.000 orang mulai dari anak sekolah hingga pejabat tinggi negara.

”Keistimewan pameran kali ini, karya satra / manuskrip yang menjadi rujukan visualisasi cerita lukisan adalah Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi HB V. Isi cerita didominasi tentang cerita Perang Jawa 1825-1830 yang dipimpin Pangeran Diponegoro,” papar Abra yang juga Pengurus Kadin DIY.

Ilustrasi buku tentang Pangeran Diponegoro karya Peter Carey.(Foto: Priyo Wicaksono)

Bela Kebenaran

Dalam cerita manuskrip, ada sudut pandang dua raja tersebut terhadap Pangeran Diponegoro yang merupakan adik dan keponakannya. Mereka melihat Perang Diponegoro sebagai perang suci yang membela kebenaran. Bahkan, mereka menyebut Pangeran Diponegoro seorang Satrio Pinandhito.

Adapun seniman lukis yang terlibat sebanyak 40 orang. Mereka memiliki latar belakang budaya, usia, gender dan gaya melukis yang beragam.

”Kami berharap masyarakat bisa menyaksikan pameran, khususnya generasi muda supaya bisa lebih memahami pentingnya mengenal perjuangan para pahlawan nasional sehingga akan meningkatkan rasa nasionalisme,” tandas Abra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.